Kamis, Februari 22, 2024
spot_img

Gas Elpiji Bakal di Hentikan, Ini Gantinya

Jakarta, GK.comPeredaran gas elpiji 3 kilogram (Kg) bakal ditarik oleh Pemerintah. Sebagai gantinya, Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan membagikan paket kompor listrik induksi secara gratis kepada masyarakat di beberapa Daerah.

Nantinya, masyarakat akan mendapatkan satu unit kompor listrik induksi dengan dua tungku masak yang masing-masing berdaya 1.000 watt. Selain itu, ada dua unit perabotan pelengkap seperti panci dan wajan dengan  disertai modul Internet of Things atau IoT untuk menyimpan data konsumsi energi listrik.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrik Dadan Kusdiana mengungkapkan bahwa, kompor induksi tersebut memiliki sejumlah parameter digital yang dilengkapi IoT, sehingga bisa memonitor konsumsi listrik yang terintegrasi dengan sistem billing atau tagihan PLN.


“Konsumsi energinya sebesar 7,19 kilo Watt hour (kWh) dengan efisiensi 70% s/d 86%,” ungkap Dadan, Jumat (16/09/2022) sumber Katadata.co.id.

Lebih lanjut, Dadan menyebut kompor induksi memiliki tingkat resiko keselamatan yang rendah, karena panas yang dihasilkan hanya mengalir kepada utensil.

“Kompor induksi ini sangat mudah dibersihkan dan bisa menghasilkan panas dengan sangat cepat. Bentuk tungkunya juga berbentuk datar dan dilengkapi feromagnetik,” sebut Dadan.


Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan telah menyiapkan program konversi tahun depan dengan menyasar sebanyak 5 juta keluarga penerimaan manfaat. Dirinya juga, memproyeksikan program ini dapat menghemat APBN sebanyak Rp 5,5 Triliun per tahun.


“Saving ini dari mana? Ini dari fakta bahwa, per kilogram elpiji biaya keekonomiannya adalah sekitar Rp 20.000,-, sedangkan biaya keekonomian kompor induksi sekitar Rp 11.300,- per kilogram listrik ekuivalen,” jelas Darmawan, beberapa waktu lalu.


Terlebih PLN telah melakukan uji klinis terhadap 2.000 proyek percontohan di dua Kota, yakni Solo dan Bali.

“Dari sampel 23 keluarga penerima manfaat ada saving APBN sekitar Rp 20 juta per tahun”. pungkasnya. (***).

Editor : Sai

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles

- Advertisement -