Beranda Hukrim 1.600 Rokok Merk Son King Diamankan DJBC Kepri, Herman : Kami Tidak...

1.600 Rokok Merk Son King Diamankan DJBC Kepri, Herman : Kami Tidak Salah, Dokumen Lengkap

303
0

Karimun, GK.com – Minggu (31/5), Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepri dan KPU BC Tipe B Kota Batam melakukan patrol terkoordinasi dalam Operasi Jaring Sriwijaya. Melalui Siaran Pers Nomor : PERS-12/WBC.04/2020, saat itu, Satgas Patroli Laut BC yang sedang berada di Perairan Nongsa, Batam, berdasarkan informasi yang diterima mendapati kapal kayu yang tidak mengaktifkan Instrument AIS yang diduga memuat barang dari perairan Singapura mengarah ke perairan Nongsa.

Setelah dilakukan pemantauan lebih lanjut, kapal tersebut memasuki perairan Indonesia pada pukul 13.51 Wib. Menindaklanjuti informasi tersebut, Satgas Patroli Laut BC mendekati kapal tersebut, sekitar pukul 14.15 Wib.  Kemudian  Satgas Patroli Laut BC melihat kapal kayu dengan cirri-ciri yang mirip dengan informasi yang diterima tersebut, lalu mendekati kapal, sembari memberikan isyarat lisan untuk berhenti. Akan tetapi, pada saat berusaha ingin mendekati untuk melakukan pemeriksaan awal, kapal tersebut enggan berhenti dan melakukan maneuver untuk melarikan diri.

Tampak bagian depan kaca kapal bekas tempakan

Selanjutnyaa, Satgas Patroli Laut BC memberikan perintah untuk berhenti, tetapi tidak dihiraukan oleh kapal tersebut, sehingga Satgas Patroli Laut BC terpaksa harus melepaskan tembakan peringatan sebagai isyarat agar kapal tersebut berhenti.

Sekitar pukul 15.00 Wib, Satgas Patroli Laut BC berhasil sandar pada kapal yang kemudian diketahui bernama KM. Wahyu dengan total ABK 9 orang yang mengangkut muatan berupa BKC HT.

Sehubungan dengan pengejaran yang dilakukan oleh Satgas Patroli Laut BC, KM. Wahyu yang diduga memuat BKC HT ilegal asal Singapura lalu dibawa menuju Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepulauan Riau untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Bahwa tindakan yang dilakukan oleh Satgas Patroli laut BC tersebut merupakan sebagai upaya DJBC untuk melindungi masyarakat dari barang illegal yang berbahaya, melindungi industri Dalam Negeri dan penerimaan Negara yang sangat dibutuhkan dalam masa penanganan pandemi Covid-19.

Sementara itu, kepada Media ini, Kapten KM. Wahyu, Herman justru menjelaskan kronologi yang berbeda dengan keterangan rilis yang diungkapkan oleh DJBC Khusus Kepri dan KPU BC Tipe B Kota Batam.

Kapten kapal dan para ABK Kapal KM. Wahyu

Menurut Herman, awal penangkapan kapal yang di nakhodai olehnya itu terjadi pada Minggu (31/05) sore, berangkat dari Negara Singapura ingin menuju Negara Kamboja, dan penangkapan yang dilakukan oleh pihak BC terjadi pada saat kapal tersebut sedang berada di wilayah Petronas yang merupakan wilayah hukum perairan Negara Malaysia.

“Saat itu, kapal kami sedang berada di wilayah hukum perairan Malaysia, kami terus melakukan perjalanan menuju ke Negara Kamboja pada saat pihak BC melakukan pengejaran terhadap kami, namun mereka terus mengejar kami. Bahkan sempat melakukan tembakan dengan menggunakan senjata api terhadap kapal kami tepat di bagian kaca kemudi kapal yang bisa mengancam nyawa,” terang Herman kepada Awak Media ini di Kapalnya yang saat itu sedang ditahan di Pelabuhan Kanwil DJBC Khusus Kepri, Rabu (03/06) sekitar pukul 12.00 Wib.

“Pada saat kapal kami diberhentikan oleh Satgas tersebut, mereka tidak menjelaskan apa alasan menangkap kami, kemudian mereka langsung menurunkan semua Anak Buah Kapal (ABK) yang berjumlah 9 orang, dan termasuk saya ke boat mereka dengan posisi kami diikat dan tidak boleh melihat kearah manapun, seakan kami melakukan kesalahan. Sempat juga dilakukan pemukulan saat itu oleh pihak BC, tepat dibagian wajah saya, sehingga saat ini saya mengalami gangguan pendengaran disebelah kiri,” paparnya.

Dijelaskan Herman saat itu, mereka merasa sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun, karena barang-barang muatan tersebut akan diantarkan dari Luar Negeri ke Luar Negeri.

“Kami membawa rokok dengan jumlah total 1.600 itu, dibekali dengan dokumen yang lengkap, dan tidak dibawa ke Indonesia, kecuali kami berencana mengantarkan rokok tersebut ke wilayah Indonesia, tentulah kami akan mengakui kesalahan,” tegas Herman.

“Sempat dilakukan pembongkaran saat itu oleh pihak DJBC Kepri, namun jumlahnya berkurang menjadi 1597, artinya barang kami berkurang 3,” tambahnya.

Bukti Koordinast Kapal KM. Wahyu berada di wilayah hukum perairan Negara Malaysia

“Kami mengambil barang muatan berupa rokok merk Son King di Negara Singapura, dan akan diantarkan ke Negara Kamboja, bukan dibawa ke Indonesia. Karena barang ini barang Luar Negeri, makanya kami tidak berani mengambil resiko untuk dibawa ke Indonesia,” jelas Herman kembali.

“Sampai saat ini, kami tidak diberikan penjelasan sedikitpun oleh pihak BC berapa lama kami akan ditahan di sini, hanya disampaikan masih dalam proses penyelidikan,

“Intinya disini tidak ada kapal kami mengarah ke perairan Nongsa seperti yang diucapkan BC. Kita punya bukti koordinatnya dan jalur kapal di sistem GPS”. pungkasnya. (KR).

Editor : Milla