Kamis, Mei 28, 2026
Beranda blog Halaman 152

Garuda Bidik Kemenangan atas Jepang di Laga Penutup

Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes. (Foto instagram)
Jakarta, GK.com – Kapten tim Nasional Indonesia Jay Idzes menyatakan optimismenya menjelang laga terakhir putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia melawan Jepang pada pekan depan. Meski telah memastikan tempat di putaran keempat, skuad “Garuda” tetap membidik kemenangan atas tim “Samurai Biru”.

Optimisme tersebut disampaikan Jay seusai pertemuan timnas dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat (6/6/2025). Pertemuan dilakukan menjelang keberangkatan tim ke Jepang.

“Ya, pasti (optimistis). Mulai hari ini kami bakal fokus untuk laga lawan Jepang,” kata Jay.

Ia menegaskan bahwa timnas tidak memiliki hambatan berarti menjelang laga. “Tentu saja kami tahu besok itu pertandingan lawan Jepang. Kami akan fokus bersiap untuk laga terakhir, karena ini juga pertandingan yang penting”. ujarnya.

Indonesia memastikan tiket ke putaran keempat usai menang 1-0 atas China di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pekan ini. Gol semata wayang dicetak melalui titik putih oleh penyerang naturalisasi, Ole Romeny. Di hari yang sama, Arab Saudi menyingkirkan Bahrain dari persaingan dengan kemenangan 2-0.

Laga melawan Jepang menjadi penutup fase grup sebelum drawing putaran keempat dilakukan AFC. Hasil pertandingan akan menentukan posisi akhir Indonesia di klasemen, yang berpengaruh pada pembagian pot undian selanjutnya. (hdm)

Idul Adha: Saatnya Wartawan Menimbang Makna Pengorbanan

Tundra Meliala, Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI). (Foto Pribadi)

Oleh: Tundra Meliala
Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI)


Saat takbir menggema dari Surau dan Masjid di pelosok Negeri, Idul Adha kembali mengetuk kesadaran kita tentang makna pengorbanan. Di tengah semarak pembagian daging kurban dan antrian panjang di rumah pemotongan hewan, ada satu profesi yang juga sedang diuji pengorbanannya, Wartawan.

Kisah Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Ismail demi perintah Tuhan, selalu menjadi pelajaran tentang ketaatan, keikhlasan, dan solidaritas. Setiap potongan daging kurban yang dibagikan ke tangan-tangan yang jarang menikmati lauk mewah adalah perwujudan nyata dari semangat berbagi. Namun, jika kurban adalah simbol kesiapan melepaskan sesuatu yang di cintai demi kebaikan yang lebih besar, maka wartawan pun sejatinya berkurban—setiap hari.

Antara Tugas Dan Tekanan

Menjalani profesi wartawan di era digital bukan sekadar soal menulis berita. Ini tentang menavigasi badai tekanan, ancaman, dan kehilangan. Berdasarkan catatan, sepanjang 2024, sedikitnya 56 kasus kekerasan terhadap jurnalis terjadi, mulai dari intimidasi, peretasan, hingga kekerasan fisik. Dalam banyak kasus, para pelaku berasal dari kalangan aparat, elite politik, hingga buzzer digital yang tak menyukai laporan investigatif.

Ini belum termasuk tekanan ekonomi. Seiring peralihan iklan dari media cetak ke platform digital seperti Facebook dan Google, pendapatan industri media menyusut drastis. Laporan Reuters Institute 2024 menyebutkan bahwa lebih dari 60 persen pendapatan iklan digital di Indonesia kini diserap oleh dua raksasa digital tersebut, meninggalkan media lokal dan nasional dalam tekanan berat.

Konsekuensinya? PHK massal. Dalam tiga tahun terakhir, beberapa grup media besar di Indonesia terpaksa memangkas ratusan pekerja, termasuk jurnalis senior yang kehilangan mata pencaharian di usia yang tak muda lagi. Dalam istilah yang lebih menyayat, mereka di potong sebelum waktunya.

Ketika “Kurban” Bukan Lagi Simbol

Dalam konteks ini, berkurban bukan sekadar menyembelih hewan ternak. Wartawan mengorbankan waktu keluarga, energi, bahkan kadang nyawa, demi satu hal yang kerap dianggap sederhana, “Menyampaikan Kebenaran”. Tapi benarkah ini masih dimaknai sebagai bentuk ibadah sosial?

Seorang wartawan dari daerah konflik di Papua pernah berkata dalam sebuah forum media, “Kami tidak bisa ikut Idul Adha karena harus liputan kerusuhan. Tapi setiap hari kami merasa sedang berkurban, dan tak ada upah tambahan untuk itu”. Pernyataan itu diamini banyak rekan seprofesi di ruang diskusi yang sunyi setelahnya.

Dalam kondisi demikian, wartawan sejatinya menjalani makna pengorbanan seperti yang dicontohkan dalam Idul Adha, “bukan hanya melepas, tapi juga menerima”. Menerima risiko, menerima kritik, dan menerima ketidakpastian hidup demi sesuatu yang lebih besar, menjaga kewarasan publik.

Mencari Tebusan dan Harapan

Pengorbanan bukan tanpa tebusan. Wartawan yang tulus dan tekun bisa memetik kepuasan batin ketika liputannya menggugah perubahan. Ada kisah tentang jurnalis daerah yang liputannya soal korupsi Dana Desa membuat seorang Kepala Desa akhirnya di tangkap, dan dana bantuan mengalir kembali ke warga.

Apresiasi semacam itu kini datang juga dari platform non-tradisional. Beberapa wartawan muda memanfaatkan Substack, YouTube, hingga Instagram untuk membangun kanal independen mereka sendiri—dengan ribuan pembaca loyal. Di sini, tebusannya tidak hanya berupa uang, tetapi juga ruang otonom dan kontrol editorial yang tidak dimiliki di redaksi konvensional.

Langkah adaptif ini menjadi penting di tengah merosotnya pendapatan media. Sebab, menurut kajian Google dan Deloitte (2023), media yang mengembangkan sistem langganan digital memiliki tingkat pertumbuhan pendapatan hingga 2,5 kali lipat dibanding yang masih mengandalkan iklan tradisional.

Dari Halaman Redaksi ke Halaman Sejarah

Ketika kita kembali merefleksikan Idul Adha, mungkin kita bisa melihat wartawan bukan hanya sebagai “Penyampai Berita,” tetapi juga sebagai Penjaga Nilai. Seperti Nabi Ibrahim yang menimbang antara cinta kepada anak dan ketaatan kepada Tuhan, wartawan pun menimbang antara keselamatan pribadi dan tanggung jawab publik.

Mereka tidak selalu memakai rompi pers. Tidak selalu tampil di televisi. Tapi mereka ada—di Jalan, di Desa, di Ruang Sidang, di Wilayah Bencana, atau di balik layar, menyunting naskah berita yang mungkin akan anda baca esok hari.

Idul Adha, dengan seluruh semangat pengorbanannya mengingatkan kita bahwa tidak semua kurban berupa daging. Sebagian kurban berwujud waktu, integritas, bahkan suara yang tetap ditulis meski tahu akan dibungkam.

8 Pejabat Terima Puluhan Miliar Dari Pemerasan TKA di Kemenaker

Pemerasan TKA di Kemenaker sejak era Cak Imin, delapan pejabat terima puluhan miliar. (Stock)

Jakarta, GK.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap praktik dugaan pemerasan terhadap Tenaga Kerja Asing (TKA) di Kementerian Ketenagakerjaan yang telah berlangsung sejak lebih dari satu dekade silam. Praktik ini di yakini bermula pada tahun 2012, saat Kementerian tersebut masih dipimpin oleh Abdul Muhaimin Iskandar, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada periode 2009–2014.

“Praktik ini bukan dari tahun 2019. Dari hasil proses pemeriksaan yang kami laksanakan, praktik ini sudah berlangsung sejak 2012,” ujar Pelaksana Harian Direktur Penyidikan KPK, Budi Sukmo Wibowo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (5/6/2025).

Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menjabat dalam kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelahnya, jabatan Menteri Ketenagakerjaan diisi Hanif Dhakiri (2014–2019), Ida Fauziyah (2019–2024), dan kini dijabat Yassierli sejak Oktober 2024.

Sejauh ini, KPK menetapkan delapan tersangka terkait dugaan pemerasan dalam pengurusan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) di Kemenaker. Mereka berasal dari berbagai jenjang struktural di lingkungan Kementerian, mulai dari pejabat eselon I hingga staf teknis.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, berikut rincian nama, jabatan, serta jumlah uang yang diduga di terima masing-masing tersangka dalam periode 2019–2025:

1. Suhartono, Dirjen Binapenta dan PKK (2020–2023), menerima Rp 460 juta
2. Haryanto, Staf Ahli Menaker dan mantan Dirjen serta Direktur PPTKA (2019–2025), menerima Rp 18 miliar
3. Wisnu Pramono, Direktur PPTKA (2017–2019), menerima Rp 580 juta
4. Devi Anggraeni, Direktur PPTKA (2024–2025), menerima Rp 2,3 miliar
5. Gatot Widiartono, Koordinator Analisis dan PPTKA (2021–2025), menerima Rp 6,3 miliar
6. Putri Citra Wahyoe, Petugas Saluran Siaga dan Verifikatur RPTKA (2019–2025), menerima Rp 13,9 miliar
7. Jamal Shodiqin, Analis TU dan Pengantar Kerja Ahli Pertama PPTKA (2019–2025), menerima Rp 1,8 miliar
8. Alfa Eshad, Pengantar Kerja Ahli Muda (2018–2025), menerima Rp 1,1 miliar

Total dugaan penerimaan mencapai puluhan miliar rupiah, dan disinyalir bersumber dari proses penerbitan dokumen RPTKA bagi Tenaga Kerja Asing.

KPK menyatakan penyidikan akan terus dikembangkan untuk menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang turut terlibat, termasuk potensi keterlibatan pejabat di tingkat lebih tinggi. Proses pemeriksaan dan pendalaman terhadap alur pemberian izin TKA menjadi fokus dalam penyidikan lanjutan.

“Ini bukan hanya soal nilai uang, tetapi menyangkut integritas sistem ketenagakerjaan dan tata kelola tenaga kerja asing di Indonesia”. tegas Budi Sukmo.

Hingga berita ini di tayangkan, Kementerian Ketenagakerjaan belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus ini. (hdm)

Debut Gemilang Beckham Putra, Ini Pesan Khusus Kluivert

Beckham Putra menggigit lambang Garuda di kasus timnas seraya mengacungkan telunjuk sebagai simbol nomor satu. (Foto. Antara)
Jakarta, GK.com – Gelandang muda Beckham Putra mendapat pesan sederhana namun sarat makna dari pelatih tim nasional Indonesia, Patrick Kluivert saat melakoni debutnya bersama tim Garuda dalam laga persahabatan kontra China di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (5/6/2025). Pesan itu adalah percaya diri, dan jangan takut berbuat kesalahan.

“Yang penting percaya diri, jangan takut salah. Karena ini debut saya, jadi saya harus buktikan itu, dan yang terpenting keep going,” ucap Beckham seusai pertandingan di kawasan mixed zone, Jumat (6/6/2025) dini hari.

Beckham tampil selama 16 menit setelah menggantikan Yakob Sayuri pada menit ke- 74. Dalam waktu singkat tersebut, pemain Persib Bandung itu mencatatkan sejumlah kontribusi positif. Berdasarkan data statistik dari Sofascore, Beckham mencatatkan 18 sentuhan, satu dribel sukses, delapan umpan dengan akurasi 75 persen, satu umpan panjang sukses, tiga duel udara berhasil, serta satu tekel bersih.

Ia nyaris mencetak assist pada menit ke- 79 saat umpannya disambut tendangan Kevin Diks. Namun, bola berhasil ditepis kiper China, Dalei Wang.

Gol tunggal kemenangan Indonesia dalam laga itu di cetak oleh Ole Romeny melalui titik penalti. Itu menjadi gol ketiga Romeny dalam tiga laga perdananya bersama skuad Garuda.

Selain pesan dari Kluivert, Beckham juga mengungkapkan wejangan dari pelatih Persib, Bojan Hodak. Pelatih asal Kroasia itu kerap menekankan pentingnya kepercayaan diri dan mental juara.

“Coach Bojan selalu memberikan energi positif buat Beckham. Saya diminta selalu memberikan yang terbaik karena saya punya kemampuan. Jadi saya harus bisa membuktikan itu”. ujarnya.

Selanjutnya, Indonesia dijadwalkan menghadapi Jepang di Stadion Suita, Osaka, Selasa (10/6/2025) sekitar pukul 17.35 WIB. Meski hasil pertandingan itu tak memengaruhi kelolosan Indonesia ke putaran keempat bersama Arab Saudi, posisi klasemen akhir Grup C masih bisa berubah. Indonesia saat ini hanya terpaut satu poin dari Arab Saudi di puncak klasemen. (hdm)

Indonesia Mendekat ke Putaran Ketiga

Indonesia menundukkan China lewat gol tendangan penalti Romeny di babak pertama laga lanjutan grup C kualifikasi Piala Dunia di SUBK Jakarta, Kamis (5/6/2025) malam. (Foto Antara)
Jakarta, GK.com – Tim Nasional Indonesia meraih tiga poin krusial setelah menundukkan China dengan skor 1-0 dalam laga lanjutan Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia pada Kamis (5/6/2025) malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Gol semata wayang di cetak oleh Ole Romeny melalui titik putih menjelang akhir babak pertama.

Tambahan tiga poin ini membawa Indonesia naik ke peringkat ketiga klasemen dengan koleksi 12 poin dari tujuh pertandingan. Sementara itu, China tertahan di dasar klasemen dengan 6 poin, menyulitkan langkah mereka untuk lolos ke putaran selanjutnya.

Indonesia tampil agresif sejak awal. Dalam dua menit pertama, kombinasi Thom Haye dan Ricky Kambuaya sudah menghasilkan peluang, meskipun tendangan Kambuaya masih melenceng tipis dari gawang China. Skuad tamu membalas dengan serangan cepat yang berujung pada sepakan Yudong Wang, tetapi belum mengarah ke gawang.

Ole Romeny menjadi aktor utama serangan Indonesia sepanjang babak pertama. Penyerang naturalisasi ini menciptakan empat peluang pada rentang menit ke- 20, tetapi belum berhasil mengonversi menjadi gol. Kesempatan emas datang di menit ke- 40 ketika Kambuaya dijatuhkan oleh Yang Zexiang di kotak penalti. Setelah pemeriksaan VAR, wasit Rustam Lutfullin asal Uzbekistan menunjuk titik putih.

Romeny yang menjadi eksekutor menunaikan tugasnya dengan baik, mengarahkan bola ke sudut kanan bawah gawang tanpa bisa dijangkau kiper Wang Dalei. Keunggulan 1-0 bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, Emil Audero tampil gemilang. Ia menggagalkan peluang emas China pada menit ke- 48 dengan menepis sepakan keras Yudong dari luar kotak penalti. Permainan kemudian berjalan lebih lambat, tetapi Indonesia tetap mengontrol ritme pertandingan.

Peluang terbaik Indonesia di babak kedua datang pada menit ke- 78. Beckham Putra yang baru masuk menggantikan Yakob Sayuri menyodorkan bola ke Romeny. Tembakan Romeny sempat ditepis Wang Dalei, dan upaya keduanya pun belum berbuah gol setelah bola melebar dari gawang.

China yang mengandalkan serangan balik kerap terbentur tembok pertahanan Indonesia yang disiplin. Tiga bek utama—Jay Idzes, Rizky Ridho, dan Justin Hubner—berperan besar meredam pergerakan lini depan China yang tak banyak menciptakan ancaman berarti.

Hingga tambahan waktu enam menit berakhir, keunggulan Indonesia tetap bertahan. Kemenangan ini menjadi modal penting menuju laga pamungkas Grup C melawan Jepang yang akan sangat menentukan nasib skuad Garuda menuju putaran ketiga kualifikasi. (hdm)

Diskon Listrik Dibatalkan, ini Alasannya

Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro. Foto GK.com / DK

Jakarta, GK.com – Mengacu pada arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah membatalkan insentif tarif listrik bagi pelanggan rumah tangga berdaya rendah. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, yang merupakan hasil dari koordinasi antar Menteri.

Menanggapi dinamika yang muncul di internal Kementerian terkait penyusunan kebijakan tersebut, “kita berpegang pada keterangan para Menteri. Dan para Menteri tentu sudah mendapatkan arahan dari Bapak Presiden,” tegas Juri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/6/2025).

Pernyataan ini disampaikan Juri di tengah mencuatnya kabar bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tak di libatkan dalam pembahasan insentif tarif listrik yang sebelumnya yang sempat diumumkan menjadi bagian dari paket kebijakan Pemerintah.

Menurut Juri, proses perumusan kebijakan publik, termasuk soal diskon tarif listrik dilakukan dalam rapat-rapat koordinasi yang melibatkan sejumlah Kementerian teknis. Namun, ia belum bisa menjawab secara spesifik terkait informasi bahwa Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tidak mengetahui pembahasan kebijakan tersebut.

“Saya belum dapat informasi yang cukup mengenai hal itu. Kita tidak perlu berspekulasi terlalu jauh tentang dinamika internal antarkementerian,” kata Juri.

Kebijakan insentif tarif listrik sempat diumumkan sebagai bagian dari enam paket stimulus Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu skema yang dirancang adalah potongan tarif sebesar 50 persen bagi sekitar 79,3 juta pelanggan rumah tangga dengan daya listrik maksimal 1.300 VA, yang rencananya berlaku mulai 5 Juni hingga 31 Juli 2025.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kemudian menyampaikan bahwa insentif listrik dicabut dari daftar karena alasan teknis. Menurut Sri Mulyani, penganggaran untuk program tersebut tidak dapat diproses tepat waktu sesuai target pelaksanaan pada pertengahan tahun.

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia secara terbuka menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mendapatkan informasi resmi mengenai rencana insentif tersebut.

“Tanyakan kepada yang pernah mengumumkan. Saya kan dari awal bilang belum dapat konfirmasi dan tidak tahu”. tegas Bahlil, Selasa (3/6/2025).

Meski muncul perbedaan keterangan, Juri menegaskan bahwa koordinasi antar Menteri tetap berjalan dalam koridor yang diarahkan Presiden. Ia juga memastikan bahwa kebijakan-kebijakan yang dijalankan tetap berlandaskan pada kepentingan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi nasional. (hdm)