Senin, Mei 25, 2026
Beranda blog Halaman 137

Tuah Laut Dan Reformasi

Natuna, GK.com – Kondisi sosial itu sendiri membentuk kehidupan seseorang untuk berpolitik dalam proses pengambilan keputusan, mengarahkan ideologis seseorang pada ideologi tertentu, lalu menggunakannya sebagai landasan untuk memahami sesuatu.

Pernyataan ini disampaikan Amran, Pemimpin Redaksi (Pemred) koranperbatasan.com saat menjadi narasumber diskusi dan bedah buku gerakan-gerakan sosial politik dalam tinjauan ideologis pasca reformasi yang didakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna, di Dinas Perpustakaan Daerah dan Kearsipan (Perpusip), Sabtu (21/6/2025) malam.

Kata Amran, konsep sosial merujuk pada aspek masyarakat dan interaksi antara individu. Politik merujuk pada proses pengambilan keputusan dan kekuasaan dalam masyarakat. Sedangkan ideologis komitmen kuat yang merujuk pada ideologi tertentu mempengaruhi cara pandang dan perilaku.

“Jika menggabungkan ketiga konsep ini, kita dapat memahami bahwa sosial politik ideologis merujuk pada interaksi antara masyarakat, kekuasaan, dan ideologi yang mempengaruhi cara pandang, perilaku individu, dan kelompok dalam masyarakat,” terang Amran.

Menurut Amran, dalam konteks ini, ideologi dapat mempengaruhi kebijakan politik dan keputusan yang diambil oleh Pemerintah. Kebijakan politik dapat mempengaruhi struktur sosial dan interaksi antara individu dalam masyarakat. Masyarakat dapat mempengaruhi ideologi dan kebijakan politik melalui partisipasi aktif dan kesadaran sosial.

“Memahami konsep sosial-politik-ideologis dapat membantu kita memahami kompleksitas masyarakat dan bagaimana ideologi, kekuasaan, dan interaksi sosial dapat mempengaruhi kehidupan kita,” ungkapnya.

Amran menceritakan, buku yang berjudul Ideologi Gerakan Pasca Reformasi karya As’ad Said Ali yang di bedah sebagai bahan diskusi menceritakan tentang runtuhnya rezim yang bertahan tiga dekade lebih melahirkan liberalisasi politik yang dahsyat membuat para aktor politik kala itu terlena untuk membangun platform bersama sebagai guldance.

“Mereka mabuk kebebasan dalam euforia berlebihan yang mendorong ambisinya untuk segera menciptakan era baru tanpa sempat kontemplasi menyusun konsep yang proporsional pasca keruntuhan,” ujarnya.

Di tengah euforia seperti itu, lanjut Amran, kekuatan-kekuatan ideologi yang nyaris sekarat pun mendapat ruang sosial politik kembali. Sejalan dengan hal itu, kekuatan-kekuatan politik menemukan modus operandi baru dengan target merebut kekuasaan. Bisa melalui Partai Politik atau gerakan sosial dengan cara demokratis atau nondemokratis.

“Ada juga gerakan ideologi yang sekadar mempengaruhi proses politik dan kebijakan,” ungkap Amran.

Amran menegaskan, ideologi-ideologi gerakan yang dimaksud penulis secara tipologi adalah kiri-radikal, kiri-moderat, kanan-konservatif, kanan liberal, dan islamisme. Secara sederhana tipologi itu bisa dikelompokan menjadi ideologi sekuler dan ideologi yang berbasis ajaran agama.

“Buku ini memotret dan memetakan ideologi-ideologi gerakan politik itu secara jelas,” tegasnya.

Amran menerangkan, untuk gerakan Sosial Politik di Natuna pasca reformasi dapat berupa gerakan protes masyarakat Natuna untuk menentang kebijakan Pemerintah yang tidak berpihak pada kepentingan mereka, seperti isu lingkungan atau eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA). Bisa juga gerakan regresif berupa penolakan terhadap perubahan sosial yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai tradisional masyarakat Natuna. Bahkan gerakan religius berupa penguatan nilai-nilai agama dalam masyarakat Natuna.

“Tugas kita saat ini mari sama-sama mengawasi kegiatan eksploitasi Sumber Daya Alam di daerah, seperti penambangan atau perikanan untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak merusak lingkungan,” tuturnya.

Lebih jauh Amran memastikan gerakan penguatan identitas lokal juga perlu dilakukan oleh mahasiswa untuk melestarikan budaya dan identitas lokal Natuna seperti bahasa, tradisi, dan kesenian. Gerakan sosial politik ini dilakukan tergantung pada isu dan kepentingan masyarakat Natuna.

“Natuna itu sumber penghasilannya adalah laut. Laut yang ada memiliki tuah, dengan tuah laut itu lah masyarakat Natuna bisa hidup sejahtera. Apa itu tuah laut? Tuah laut adalah isi laut itu sendiri, seperti ikan dan minyak bumi yang menjadi incaran banyak Negara,” beber Amran.

Dalam closing statementnya selaku narasumber, Amran menyebutkan pemicu gerakan reformasi pada tahun 1998 dikarenakan adanya penyimpangan nilai-nilai Pancasila dalam praktik Pemerintahan orde baru. Penyimpangan tersebut seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Praktik KKN yang merajalela dalam Pemerintahan orde baru menyebabkan ketidakpuasan masyarakat.

Selain itu juga, dikarenakan ketidakadilan ekonomi terlihat dari pembangunan yang tidak merata dan kesenjangan ekonomi memicu ketidakpuasan. Termasuk pembungkaman kritik dan oposisi, serta pelanggaran HAM lainnya menyebabkan masyarakat kehilangan kepercayaan pada Pemerintah.

“Saya harap kawan-kawan mahasiswa khusunya HMI Natuna tetap berpegang teguh pada ideologi Pancasila. Meskipun pelaksanaan Pancasila di era reformasi masih menghadapi tantangan seperti KKN dan kurangnya konsistensi dalam menegakkan hukum”. tutup Amran. (*)

Titiek Soeharto Kagumi Warisan Budaya Melayu Kepri

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad berkunjung ke Gedung Dekranasda di Kota Tanjungpinang. (Biro Adpim Pemprov Kepri)

Kepri, GK.com — Kekayaan budaya dan warisan sejarah Melayu di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali menjadi sorotan Nasional. Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyampaikan kekagumannya saat mengunjungi sejumlah lokasi budaya dan peternakan modern di Bintan dan Tanjungpinang, Minggu (22/6/2025) malam.

“Saya sangat terkesan dengan sambutan serta kekayaan budaya di Kepri. Warisan sejarah dan adat istiadat yang tetap dijaga ini adalah kekuatan Bangsa yang sangat berharga,” kata Titiek dalam keterangan tertulis.

Kedatangan putri Presiden ke- 2 RI, Soeharto itu disambut oleh Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura, serta Ketua DPRD Kepri Iman Sutiawan. Selama kunjungan, rombongan menelusuri pusat-pusat budaya dan sejarah Melayu yang menjadi ciri khas Provinsi ini.

Rangkaian Kunjungan Budaya

Titiek disambut secara adat melalui prosesi tepuk tepung tawar, simbol penghormatan bagi tamu agung. Ia juga meninjau Balairung Utama yang menampilkan ornamen budaya serta singgasana penabalan gelar adat Melayu.

Legislator dari Fraksi Partai Berkarya ini mengapresiasi produk-produk kerajinan lokal yang dinilai memiliki potensi ekonomi kreatif tinggi.

Titiek menyambangi Masjid Raya Sultan Riau dan berziarah ke makam tokoh Nasional.

“Saya takjub melihat warisan budaya dan nilai sejarah yang masih hidup di Pulau Penyengat,” ujarnya.

Fokus ke Ketahanan Pangan

Selain meninjau aspek kebudayaan, Titiek juga mengunjungi fasilitas peternakan modern milik PT Indojaya Agrinusa, anak usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk di Toapaya, Kabupaten Bintan.

Menurutnya, kunjungan ini menjadi bagian dari fungsi pengawasan Komisi IV DPR RI di sektor pertanian, kehutanan, dan kelautan.

“Kami ingin memastikan daerah mendapat dukungan dalam pengembangan peternakan dan ketahanan pangan,” ungkapnya.

Apresiasi Daerah

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menilai kunjungan Titiek Soeharto memperkuat semangat daerah untuk mengembangkan budaya dan ekonomi kreatif. Menurutnya, Kepri memiliki posisi strategis sebagai wajah Indonesia di kawasan utara dan pusat peradaban Melayu.

“Kunjungan ini memperkuat sinergi pusat dan daerah, sekaligus menampilkan kekuatan budaya sebagai fondasi ekonomi masyarakat,” jelas Ansar.

Provinsi Kepri dikenal sebagai wilayah dengan warisan budaya Melayu yang kuat, mulai dari bahasa, adat istiadat, hingga situs sejarah. Pemerintah daerah tengah mengupayakan promosi lebih luas terhadap potensi tersebut sebagai daya tarik pariwisata berbasis budaya. (hdm)

DPR Desak Bawas MA Telusuri Dugaan Kekeliruan Hakim dalam Royalti Agnez Mo

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman (tengah) saat beraudiensi dengan perwakilan Agnez Mo, Dirjen Kekayaan Intelektual, serta Badan Pengawas Mahkamah Agung. (Antara)

Jakarta, GK.com — Komisi III DPR RI mendesak Badan Pengawas Mahkamah Agung (Bawas MA) untuk segera menindaklanjuti laporan dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim dalam perkara gugatan royalti komposer Ari Bias terhadap penyanyi Agnez Mo. Permintaan itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (Haki) Kemenkumham, Bawas MA, Koalisi Advokat Pemantau Peradilan, dan perwakilan musisi, Jumat (20/6/2025).

“Komisi III meminta Bawas MA menindaklanjuti laporan Koalisi Advokat Pemantau Peradilan terkait dugaan pelanggaran etik hakim yang memeriksa perkara No. 92/PDT.SUS-HK/HAKCIPTA/2024 di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat,” ujar Ketua Komisi III, Habiburokhman.

Dalam perkara tersebut, Majelis Hakim memutuskan bahwa, Agnez Mo bersalah karena menyanyikan lagu “Bilang Saja” ciptaan Ari Bias tanpa izin resmi dan memerintahkan pembayaran ganti rugi sebesar Rp 1,5 miliar. Namun, menurut Habiburokhman, pemutusan perkara tersebut tidak mencerminkan penerapan yang tepat atas UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Ia menjelaskan bahwa dalam UU Hak Cipta, mekanisme pengelolaan dan pembayaran royalti diatur melalui Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) dan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), bukan secara langsung antara komposer dan penyanyi.

“Yang seharusnya membayar adalah penyelenggara acara atau event organizer, bukan penyanyinya,” kata dia.

Komisi III juga mendorong Mahkamah Agung mengeluarkan surat edaran atau pedoman teknis penerapan UU Hak Cipta agar tidak terjadi putusan yang dapat merugikan ekosistem musik Nasional.

“Putusan peradilan harus memberi kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan,” tegas Habiburokhman.

Selain itu, Kementerian Hukum dan HAM melalui Ditjen Haki diminta lebih aktif menyosialisasikan mekanisme lisensi dan royalti kepada pelaku industri kreatif, termasuk filosofi dan tujuan dari regulasi Hak Cipta.

Laporan Diterima Bawas MA

Anggota Bawas MA, Suradi membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari Koalisi Advokat Pemantau Peradilan pada 19 Juni 2025.

“Aduan ini akan kami telaah sesuai prosedur. Apakah benar terjadi pelanggaran atau tidak, akan ditentukan melalui proses pengawasan internal”. ujarnya.

Sengketa ini bermula saat Ari Bias pada akhir 2023 menyampaikan keberatannya atas penggunaan sejumlah lagu ciptaannya oleh Agnez Mo, termasuk “Bilang Saja”, tanpa perizinan yang sah. Setelah somasi pada Mei 2024 tidak ditanggapi, Ari mengajukan gugatan pada September 2024. Putusan dijatuhkan pada Februari 2025, dengan amar yang memenangkan pihak penggugat.

Kasus ini membuka ruang diskusi lebih luas soal pemahaman dan penerapan hukum hak cipta, terutama menyangkut tanggung jawab para pelaku industri atas penggunaan karya kreatif di ruang publik. (hdm)

Waspada Penipuan Digital, BNI Ingatkan Nasabah: Jangan Bagikan OTP!

PT Bank Negara Indonesia (BNI) persero. (BNI)

Jakarta, GK.com – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali menegaskan imbauannya agar nasabah tidak sembarangan membagikan data pribadi, terutama kode One‑Time Password (OTP). Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo yang menyampaikan beberapa hal penting:

🔒 Data Sensitif Tidak Diminta Bank
BNI tidak pernah meminta OTP, PIN, password, atau data rahasia melalui telepon, SMS, WhatsApp, email, atau media sosial.
bni.co.id
+8
tempo.co
+8
bni.co.id
+8

Jika ada pihak yang mengaku dari BNI meminta data pribadi, nasabah diimbau untuk verifikasi ulang melalui kanal resmi BNI seperti call center 1500046 atau aplikasi dan website resmi.
+9
kalbar.antaranews.com
+9
economy.okezone.com
+9

Modus Penipuan yang Semakin Canggih
SMS/WA palsu, media sosial dan akun peniru, serta call center fiktif menjadi sarana utama penipu.
jpnn.com
+4
economy.okezone.com
+4
deskjabar.pikiran-rakyat.com
+4

Penggunaan teknologi fake BTS memungkinkan pengirim SMS langsung ke ponsel korban, disertai tautan berbahaya dan janji hadiah palsu.
bni.co.id
+5
economy.okezone.com
+5
jpnn.com
+5

Card trapping di ATM: pelaku memasang alat agar kartu tertahan, lalu pura‑pura membantu dan mengarahkan korban menelepon call center palsu. Dari situ, PIN dan data sensitif digali.
bni.co.id
+3
kalbar.antaranews.com
+3
kompasiana.com
+3

#Tips Aman dari BNI

Selalu waspada: abaikan atau hapus pesan/telepon yang mencurigakan.

Verifikasi melalui kanal resmi sebelum merespons permintaan data. Ibrahim

Periksa kondisi ATM: jika kartu tertahan, batalkan transaksi dan hubungi call center resmi.

Tingkatkan literasi keuangan, gunakan edukasi dari Divisi Customer Experience Center (CXC) BNI yang terus aktif menguatkan keamanan data dan layanan edukasi.
rri.co.id
+11
deskjabar.pikiran-rakyat.com
+11
kalbar.antaranews.com
+11
bni.co.id
+3
kalbar.antaranews.com
+3
jpnn.com
+3

Kolaborasi untuk Lingkungan Keuangan Terpercaya
Okki menegaskan, “Dengan kerja sama dan kesadaran bersama, kita bisa menciptakan ekosistem keuangan yang aman dan terpercaya. Jika menemukan indikasi penipuan, segera hubungi BNI Call di 1500046.”
bni.co.id
+2
kalbar.antaranews.com
+2
bni.co.id
+2

📌 Kesimpulan Ringkas
Ancaman Tindakan Pencegahan
SMS/WA, akun palsu, call center fiktif Hapus, verifikasi lewat kanal resmi
Fake BTS & tautan berbahaya Jangan klik link mencurigakan
Card trapping ATM Batalkan, hubungi call center resmi.
Permintaan OTP/PIN jangan bagikan, segera konfirmasi resmi

Dengan gaya Kompas, tegas, objektif, dan berstruktur, berita ini menegaskan betapa pentingnya kewaspadaan nasabah di era kejahatan Siber yang semakin canggih. (rih)

KPK Jajaki Panggil Mantan Menag Yaqut

Mantan Menteri Agama Chol ilustrasi Yaqut Coumas. (istimewa)

Jakarta, GK.com— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjajaki jalan untuk memanggil mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dan anggota Panitia Khusus (Pansus) Angket Haji DPR RI dalam penyelidikan kasus dugaan korupsi pembagian kuota haji khusus tahun 2024. Langkah ini diambil guna mengungkap secara utuh konstruksi perkara yang sedang ditangani.

“Nanti dilihat dari kebutuhan penanganan perkara ini. Namun tentu semua pihak yang diduga mengetahui konstruksi perkara akan dimintai keterangan oleh KPK,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (20/6/2025) malam.

Pansus Angket Haji DPR sebelumnya menyampaikan dugaan adanya kejanggalan dalam pembagian kuota tambahan sebanyak 20.000 jemaah dari Pemerintah Arab Saudi. Dalam penetapannya, Kementerian Agama membagi secara merata, yakni 10.000 untuk haji reguler dan 10.000 untuk haji khusus. Skema ini dinilai menyalahi semangat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah.

KPK memastikan bahwa seluruh pihak yang dianggap mengetahui detail alokasi kuota, termasuk anggota pansus akan turut diperiksa dalam rangka mengungkap adanya potensi gratifikasi atau penyalahgunaan wewenang.

“Semua pihak tentu akan diminta keterangannya. Ini bagian dari upaya untuk memperjelas duduk perkara”. kata Budi.

Sebelumnya, pada 10 September 2024, KPK telah menyatakan kesiapannya untuk menyelidiki dugaan gratifikasi dalam proses distribusi kuota haji khusus. Penyelidikan ini dilakukan agar penyelenggaraan haji berlangsung adil dan bebas dari praktik korupsi, khususnya dalam hal pelayanan terhadap jemaah.

Pansus Angket Haji menyoroti kebijakan pembagian kuota tambahan sebagai salah satu titik krusial dalam temuan dugaan penyimpangan. Pansus juga menilai keputusan tersebut tidak berdasarkan prinsip proporsionalitas dan akuntabilitas sebagaimana diatur dalam regulasi haji yang berlaku.

Penyelidikan yang tengah dilakukan KPK diharapkan dapat mengungkap secara terang benderang apakah terdapat pelanggaran prosedur maupun tindakan koruptif dalam pelaksanaan Haji 2024. (hdm)

Satu Abad Pers Revolusioner Vietnam: Pena Menjadi Senjata Wartawan

Pengurus PWI Pusat, Mohammad Nasir. (Foto Mohammad Nasir)
Hanoi, GK.com – “Wartawan juga adalah prajurit revolusioner. Pena dan kertas adalah senjata tajam mereka,” demikian kutipan pidato utama yang disampaikan oleh Nguyen Trọng Nghia, Anggota Politbiro, Sekretaris Komite Sentral Partai yang juga Kepala Komisi Sentral untuk Komunikasi dan Pendidikan Vietnam.

Pidato itu disampaikan dalam pembukaan Perayaan Hari Pers Revolusioner Vietnam yang genap berusia 100 tahun.

Perayaan ditandai dengan Festival Pers Nasional 2025 dan diskusi-diskusi mendalam yang diselenggarakan Asosiasi Wartawan Vietnam (Vietnam Journalists Association/VJA) di National Convention Center, Jalan Pham Hung, Hanoi, Vietnam mulai Kamis pagi (19/6/2025) hingga Sabtu (21/6/2025).

Mohammad Nasir, pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dari Hanoi melaporkan, acara pembukaan festival menampilkan berbagai seni tari di panggung besar. Memukau dan mendapat sambutan tepuk tangan membahana.

Para penari yang tampil bergerak serentak, harmonis, dan lincah seperti hasil berlatih bertahun-tahun. Mereka seperti hasil seleksi panitia, baik ukuran berat badan, maupun tubuh yang rata-rata seimbang untuk bergerak melompat, meliuk-liuk, dan berbagai gerakan atraksi lainnya.

Dalam festival tersebut dipamerkan lebih dari 500 foto digital, artefak, dan materi arsip yang memungkinkan pengunjung dan jurnalis untuk menyelami warisan jurnalisme Vietnam yang berani dan inovatif.

Kegiatan yang digelar VJA itu dinilai sangat penting karena memperingati beberapa tonggak sejarah, yakni peringatan 80 tahun Revolusi Agustus (19 Agustus 1945 – 19 Agustus 2025), Hari Nasional Republik Sosialis Vietnam (2 September 1945 – 2 September 2025), ulang tahun ke- 135 Presiden Ho Chi Minh (19 Mei 1890 – 19 Mei 2025), peringatan 75 tahun berdirinya Asosiasi Wartawan Vietnam (21 April 1950 – 21 April 2025), dan yang paling penting, peringatan 100 tahun Pers Revolusioner Vietnam (21 Juni 1925 – 21 Juni 2025).

Lebih lanjut Nguyen Trong Nghia, dalam pidatonya mengutip
pernyataan Presiden Ho Chí Minh bahwa jurnalisme tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga berfungsi sebagai kekuatan spiritual yang kuat—membangkitkan aspirasi Nasional untuk pembangunan dan memperkuat keyakinan pada jalan sosialis.

Menurut Nghia, Festival Pers Nasional 2025 adalah simbol nyata keberlanjutan dan kemajuan dari media cetak hingga penyiaran dan platform digital, dari ruang berita tradisional hingga model editorial multiplatform yang terintegrasi, dari pena dan kertas hingga kecerdasan buatan dan data besar.

Sementara itu, dari atas panggung mengawali pembukaan festival pers bertema “Pers Vietnam – Loyalitas, Kreativitas, Keberanian, dan Inovasi untuk Pembangunan dan Pertahanan Nasional”, Presiden VJA, Le Quoc Minh menyampaikan terima kasih kepada hadirin dari berbagai kalangan.

Mereka yang hadir, terutama komunitas pers, tokoh pers, pejabat Pemerintah, dan organisasi pers dari Asia Tenggara, dan Negara lainnya.

Organisasi pers manca Negara yang turut hadir dalam peringatan Pers Revolusioner Vietnam antara lain
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat diwakili Agus Sudibyo dan M. Nasir, kemudian perwakilan organisasi pers Thailand, Kamboja, Malaysia, China, Korea Selatan, Filipina, Laos, dan Singapura.

Le Quoc Minh yang juga Anggota Komite Sentral Partai selanjutnya mengatakan, “Selama satu abad terakhir, pers revolusioner Vietnam secara konsisten memainkan peran sebagai kekuatan pelopor di bidang ideologi dan budaya, dan sekarang tetap menjadi suara setia Partai dan forum yang dapat diandalkan bagi rakyat”.

Ia menggarisbawahi bahwa “loyalitas” bukan sekadar sifat, tetapi prinsip panduan bagi jurnalis revolusioner yang mencerminkan komitmen teguh terhadap cita-cita Partai dan kepentingan Bangsa serta rakyatnya. Di era digital, pers harus mengandalkan “kreativitas” untuk beradaptasi dan berkembang dalam memenuhi tuntutan khalayak.

Festival tahun ini diikuti lebih dari 124 kantor berita, ada sekitar 130 stan yang diisi perusahaan surat kabar arus utama dari pusat dan lokal, serta lembaga pelatihan jurnalisme terkemuka. Media-media itu selama ini meliput semua aspek kehidupan masyarakat Vietnam dari politik dan ekonomi hingga budaya, pertahanan, keamanan, dan urusan luar negeri.

“Festival tahun ini memiliki makna penting, menandai perjalanan seratus tahun Pers Revolusioner Vietnam. Penyelenggaraannya direncanakan dengan cermat untuk memastikan semua kegiatan yang mencerminkan hakikat jurnalisme Vietnam dari tradisinya hingga transformasi modernnya,” kata Presiden VJA Le Quoc Minh yang juga Pemimpin Redaksi Surat Kabar Nhan Dan.

Banyak kantor berita memamerkan produk jurnalisme multimedia terkini yang menerapkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), pemodelan 3D, holografi, dan realitas virtual.

Ruang pameran khusus disiapkan media besar seperti Surat Kabar Nhan Dan, Vietnam Television (VTV), Voice of Vietnam (VOV), Vietnam News Agency (VNA), blok pers militer, dan blok pers keamanan publik. (*)