Beranda Pendidikan Efek Pandemi, Penerapan PKL SMK di Tanjungpinang Belum Seragam

Efek Pandemi, Penerapan PKL SMK di Tanjungpinang Belum Seragam

71
0

Tanjungpinang, GK.com – Semenjak terkonfirmasinya kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada Tahun 2020 lalu, hingga saat ini pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar dan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi tantangan baru dalam bidang pendidikan.

Namun, hal itu bukanlah menjadi sesuatu hambatan besar bagi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Tanjungpinang. Terbukti, saat dijumpai oleh Awak Media ini di Ruangannya, Wakil Kepala Kesiswaan SMKN 1 Tanjungpinang, Sumarni mengatakan bahwa, untuk kegiatan PKL sudah mereka lakukan sejak bulan Juni Tahun 2020 lalu.

“Untuk kegiatan PKL kita bagi menjadi dua gelombang, yakni gelombang pertama sudah kita lakukan sejak bulan Juni 2020 lalu, untuk gelombang kedua sudah di mulai pada awal Januari Tahun 2021 ini,” jelasnya, Rabu (10/2) pagi.

“Masa PKL untuk setiap gelombangnya adalah 6 bulan, jadi gelombang pertama dari Juni sampai Desember, gelombang kedua Januari sampai Juni,” sambungnya.

Sementara itu, di Sekolah yang berbeda, yakni SMKN 2 Tanjungpinang ternyata belum memberlakukan kegiatan PKL. Sisrayanti selaku Kepala SMKN 2 Tanjungpinang menjelaskan bahwa mereka belum bisa melakukan PKL, untuk saat ini hanya melakukan pembelajaran tatap muka praktik secara Daring.

“Untuk sekarang kita hanya menerapkan pembelajaran tatap muka praktik, yaitu pembelajaran C2 dan C3, itupun harus dibagi menjadi dua kelompok, mengingat banyaknya siswa kami di dalam satu kelas, untuk C1 masih secara Daring, untuk PKL kemungkinan akan dimulai pada semester 5 mendatang,” ujarnya.

“Jadi dalam satu kelompok itu nantinya ada sekitar 18 siswa, dengan rentang waktu praktek sekitar 3 jam, kelompok pertama dari jam 09.00 sampai 12.00 Wib, untuk kelompok kedua dari jam13.00 sampai jam 16.00 Wib,” terangnya.

Akan tetapi, dijelaskan Sisrayanti, tidak semua siswa bisa mengikuti pembelajaran tatap muka praktik tersebut, dikarenakan ada Orang Tua siswa yang tidak memberikan izin dengan pembelajaran tersebut.

“Jadi tidak semua yang bisa ikut, kita sudah memberi surat di atas Meterai 6.000 kepada Orang Tua siswa, ada yang tidak memberikan izin, jadi kalau siswa itu ingin ikut pembelajaran namun Orang Tuanya tidak memberikan izin, kita tidak mengizinkan siswa tersebut untuk mengikuti pembelajaran tersebut,” tuturnya.

“Sejauh ini, pihak Sekolah sendiri hanya bisa berharap agar semua pihak dapat saling mendukung satu sama lain dalam mengatasi persoalan ini”. tutupnya. (RE).

Editor : Febri