Beranda Kepulauan Riau Tanjungpinang Dalam Raker, LAM Tanjungpinang Tonjolkan Musyawarah Pecahkan Permasalahan

Dalam Raker, LAM Tanjungpinang Tonjolkan Musyawarah Pecahkan Permasalahan

109
0

Tanjungpinang, GK.com – Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Tanjungpinang, Sabtu (12/7) menggelar Rapat Kerja di Gedung Sekretariat LAM Kota Tanjungpinang sekitar pukul 09.30 Wib.

Acara Rapat Kerja tersebut dibuka oleh Wali Kota Tanjungpinang H. Syahrul, S.Pd dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Provinsi Kepri H. Isdianto, Ketua LAM Kota Tanjungpinang H. Wan Raffiwar, serta Ketua TP- PKK.

Ketua LAM Kota Tanjungpinang, H. Wan Raffiwar  mengatakan, setiap Rapat Kerja dan permasalahan yang ada selalu dibahas secara musayawarah.

“Kami sebagai orang melayu apapun rencana kerja atau permasalahan yang ada, harus di lakukan dengan cara berunding/bermusawarah sesama kita, walau apa pun suku kita, tapi yang telah lama tinggal di Kota Tanjungpinang ini, haruslah membudayakan adat melayu disini,” kata Wan.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Tanjungpinang, H. Syahrul, S.Pd mengharapkan slogan “Dimana Langit Di Pijak Di Situ Langit Di Junjung” akan benar-benar terealisasikan di Tanjungpinang.

“Masyarakat Tanjungpinang ini suku-suku nya sangat lengkap, miniaturnya Indonesia itu adalah Tanjungpinang, jadi kita berharap slogan tersebut akan ditetapkan, termasuk dalam mengadakan pesta pernikahan dengan menggunakan Adat Melayu,ucap Syahrul.

“Kedepannya kita berharap, agar Adat Melayu ini tak hilang di Bumi, Rapat Kerja ini bisa menghasilkan sesuatu yang bisa diwariskan kepada generasi muda, sehingga mereka paham dari awal tentang Budaya mereka sendiri,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Kepri H. Isdianto, S.Sos., M.M menyampaikan pendapatnya terkait Rapat Kerja LAM ini sangatlah bagus untuk menegakkan budaya Melayu yang saat ini sudah terpengaruh arus Globalisasi.

“Bagus sekali, saya harap dengan adanya program-program kerja di LAM ini kedepannya bisa melahirkan kriteria atau hal yang bisa dijadikan panutan, sebab budaya melayu sangatlah perlu diangkat, jika tidak, saya khawatir anak-anak tidak akan tau dengan budayanya sendiri”. tutup Isdianto. (AA).

Edito : Milla