Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 75

JBI Wujudkan Masyarakat Inklusif Dan Ramah Disabilitas

SLBN Karimun adakan pelatihan JBI. (Dok. SLBN Karimun)

Karimun GK.com– Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kabupaten Karimun menggelar kegiatan Pelatihan Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang berlangsung pada Jum’at hingga Senin, 14–17 November 2025, di Aula SLB Negeri Karimun.

Diikuti peserta dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi dengan jadwal pelatihan mulai Pukul 08.00 WIB hingga Pukul 16.00 WIB, platihan ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten, yakni Feri Naldi dan Elvi Yenita, S.H., dari DPD Gerkatin Sumatera Barat.

Adapun materi yang diberikan adalah terkait teknik dasar dan lanjutan komunikasi visual bagi penyandang Tuli serta pemahaman terkait etika pelayanan inklusi.

Kepala SLB Negeri Karimun, Eni Rozita menyampaikan, pelatihan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam meningkatkan kompetensi masyarakat, khususnya di bidang layanan komunikasi bagi penyandang disabilitas sensorik.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah menghasilkan juru bahasa isyarat karimun, dan mewujudkan masyarakat Karimun yang ramah dan inklusif. Dengan adanya juru bahasa isyarat yang bersertifikat, diharapkan layanan bagi kaum tuli baik Instansi Pemerintah maupun swasta dapat ditingkatkan,” harap Eni.

Pelatihan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta, karena dinilai sebagai peluang, sekaligus kebutuhan nyata di Karimun. Dengan semakin berkembangnya sektor layanan publik, keberadaan juru bahasa isyarat akan menjadi peran strategis dalam menjembatani komunikasi dan meminimalkan hambatan informasi.

“Kegiatan ini juga diharapkan bisa menjadi momentum penting bagi Kabupaten Karimun dalam meningkatkan kesadaran publik, membuka akses layanan, serta memperkuat komitmen daerah terhadap isu-isu inklusi dan kesetaraan hak”. harapnya. (Kl).

Gebyar Pajak Daerah, Bapenda Batam Optimistis Tingkatkan Kesadaran Bayar PBB

Kasubid Sistem Informasi Penetapan Daerah Bapenda Batam, Bayu Nirwana Sebayang. (Dok. GK/Kafyan)

Batam, GK.com – Kesadaran masyarakat Batam untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kini menunjukkan tren positif. Bapenda Kota Batam terus melakukan berbagai terobosan layanan—mulai dari mempermudah akses pembayaran, memperluas kanal transaksi, hingga turun langsung ke lingkungan warga. Beragam langkah ini mulai memberikan hasil yang signifikan.

Kasubid Sistem Informasi Penetapan Daerah Bapenda Batam, Bayu Nirwana Sebayang menyampaikan bahwa, peningkatan pembayaran pajak tahun ini merupakan buah dari kerja keras seluruh tim dalam memberikan edukasi dan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Dijelaskan Bayu, tingkat kepatuhan pembayaran PBB pada tahun lalu hanya mencapai 56 persen. Angka tersebut dinilai masih cukup rendah, sehingga diperlukan strategi baru untuk mendorong masyarakat lebih sadar akan kewajibannya.

“Kami melihat program seperti penghapusan denda menjadi cara yang cukup efektif untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat. Tahun ini pun terlihat peningkatan yang signifikan,” ujarnya, Jumat (14/11/2025).

Salah satu program yang mendapat respon positif adalah pemberian diskon 10 persen bagi wajib pajak yang membayar lebih awal pada triwulan pertama. Dengan adanya potongan tersebut, masyarakat yang biasanya menunda justru memilih melunasi sejak Januari, meski jatuh tempo berada pada Agustus.

“Antusias masyarakat tinggi. Dampaknya, penerimaan awal tahun menjadi lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” tambah Bayu.

Selain diskon, program penghapusan denda juga menjadi solusi bagi wajib pajak yang memiliki tunggakan besar akibat akumulasi keterlambatan. Program ini membantu masyarakat menyelesaikan kewajibannya tanpa terbebani biaya tambahan.

Tidak hanya itu, tahun ini Bapenda Batam juga meluncurkan program Sibijakgo, yaitu layanan jemput bola yang melibatkan perangkat RT/RW di wilayah dengan tingkat kepatuhan rendah. Petugas turun langsung ke lingkungan warga untuk melakukan sosialisasi, verifikasi data, hingga melayani pembayaran di tempat.

“Minggu lalu kami turun ke Perumahan Kamel Cajijal. Warga dikumpulkan oleh RT/RW, kemudian kami jelaskan mekanisme PBB dan langsung melayani pembayaran. Cara ini terbukti efektif,” terangnya.

Bapenda juga terus meningkatkan inovasi akses pembayaran. Jika sebelumnya masyarakat harus mengantre di bank, kini pengecekan dan pembayaran PBB dapat dilakukan melalui ponsel, cukup dengan memindai kode QR.

“Sekarang bukan hanya cek tagihan, tapi pembayaran pun bisa dilakukan secara digital. Kami ingin seluruh layanan semakin mudah dan cepat,” katanya.

Bayu menegaskan bahwa pembangunan di Kota Batam sangat bergantung pada pajak daerah yang dibayarkan masyarakat, mulai dari pelebaran jalan, program PSPK, hingga peningkatan fasilitas umum. Semua kembali dinikmati oleh warga.

“Batam ini salah satu daerah yang paling mandiri secara fiskal. Pajak dari masyarakat kembali lagi kepada masyarakat melalui berbagai program pembangunan,” ungkap Bayu.

Bapenda juga bekerja sama dengan sejumlah Bank, seperti Bank Riau Kepri, BPR, BTN, dan BNI. Hal ini tentunya guna memperluas akses kanal pembayaran, sehingga masyarakat dapat melunasi kewajibannya tanpa hambatan.

Terkait Gebyar Pajak Daerah, Bayu menyebut kegiatan ini merupakan program perdana dan akan dievaluasi secara menyeluruh. Jika terbukti mampu meningkatkan kepatuhan, program ini berpotensi menjadi agenda rutin tahunan.

“Semua program pasti dievaluasi. Tahun lalu saja ada peningkatan penerimaan hingga Rp 120 juta setelah evaluasi program tertentu. Artinya langkah-langkah ini memberi dampak positif,” tegas Bayu lagi di Ruang Kerjanya pukul 15.00 WIB.

Bayu berharap rangkaian program inovatif ini dapat terus meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.

“Pada akhirnya, pajak ini kembali lagi untuk masyarakat dalam bentuk pembangunan. Jadi kami berharap tingkat kepatuhan semakin tinggi”. tutupnya. (KF)

BMKG Batam Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem, Masyarakat Diminta Waspada Dan Aktif Pantau Informasi Resmi

Noah Ginting, Forecaster BMKG Batam. (Dok. GK/Kafyan

Batam, GK.com – Cuaca di wilayah Kepulauan Riau (Kepri) dalam beberapa hari terakhir sulit ditebak. Pagi panas terik, namun menjelang sore langit tiba-tiba bisa berubah gelap disertai hujan deras. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Batam, fenomena ini terjadi karena kondisi atmosfer di Kepri sedang labil dan cepat berubah.

“Atmosfer kita saat ini cenderung tidak stabil. Jadi bisa saja siang terasa panas, tapi beberapa jam kemudian hujan deras turun. Polanya cepat sekali berubah,” ujar Noah Ginting, Forecaster BMKG Batam, Rabu (13/11/2025).

BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan melanda sebagian besar wilayah Kepri pada 13, 15, dan 16 November 2025. Potensi tertinggi diprediksi terjadi di Kabupaten Lingga dan Natuna, dengan curah hujan mencapai 50–100 milimeter.

“Untuk Natuna dan Lingga, curah hujan tergolong tinggi. Sedangkan wilayah lain seperti Batam, Bintan, dan Karimun berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang,” jelas Noah.

Selain hujan, BMKG juga mencatat adanya potensi angin kencang dan gelombang laut tinggi di sejumlah perairan Kepri, dengan rincian:

1. Perairan Karimun: tinggi gelombang sekitar 0,5–1,25 meter (kategori rendah).
2. Perairan Lingga dan Bintan: tinggi gelombang 1,25–2,5 meter (kategori sedang).

Sementara itu, potensi banjir rob masih perlu diwaspadai di wilayah Batam, Dabosingkep, dan Karimun pada rentang waktu 9–16 November.

Noah menerangkan, BMKG Batam terus memperbarui data prakiraan cuaca dan menyampaikannya secara real-time kepada instansi terkait, seperti BPBD dan Dinas Perhubungan.

“Kami update setiap saat. Kalau ada potensi cuaca ekstrem, langsung kami kirimkan melalui grup WhatsApp Stakeholder, kadang juga lewat telepon. Selain itu, info juga bisa diakses di website dan aplikasi Info BMKG,” tuturnya.

Koordinasi lintas lembaga, kata Noah, menjadi langkah penting untuk mempercepat respons terhadap potensi bencana seperti pohon tumbang, longsor, atau banjir lokal di berbagai wilayah Kepri.

Berdasarkan analisis data hujan selama 31 tahun terakhir (1993–2024), curah hujan tertinggi di Kepri memang selalu terjadi pada bulan November hingga Januari. Namun dalam beberapa tahun terakhir, BMKG mencatat adanya tren peningkatan intensitas hujan dan angin ekstrem, yang diduga berkaitan dengan perubahan iklim global.

“Kalau kita lihat grafiknya, setiap akhir tahun memang puncaknya hujan. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, intensitasnya meningkat. Itu yang kami terus pantau,” ujar Noah di Ruang Kerjanya Pukul 14.00 WIB.

BMKG mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan tidak memaksakan untuk beraktivitas di luar ruangan saat cuaca ekstrem. Hal ini terutama ditujukan bagi pengendara motor, nelayan, serta pengguna transportasi laut dan udara.

“Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya di rumah saja. Kalau harus keluar, pastikan kendaraan aman dan siap menghadapi hujan. Untuk nelayan, perhatikan peringatan dini sebelum berlayar,” imbau Noah.

Untuk memantau kondisi cuaca secara langsung, masyarakat dapat mengunduh aplikasi Info BMKG melalui Play Store atau App Store. Aplikasi ini memungkinkan pengguna memilih Provinsi hingga Kecamatan untuk melihat prakiraan cuaca terkini.

“Informasi ini gratis dan bisa diakses kapan saja. Kami juga aktif membagikan pembaruan melalui grup komunikasi dengan masyarakat dan stakeholder,” ucapnya.

Menutup penjelasannya, Noah menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat, Pemerintah Daerah, dan BMKG dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem di Kepri.

“Kami di BMKG berkomitmen untuk terus memberikan informasi terbaru. Tapi kuncinya adalah saling peduli. Kalau masyarakat waspada, nelayan berhati-hati, dan Pemerintah cepat tanggap, kita semua bisa menghadapi cuaca ekstrem ini dengan aman”. tegas Noah. (KF/DS)

BPJS Kesehatan Cabang Batam Utamakan Kredensialing Dan Faskes, Masyarakat Boleh Lapor ke BPJS SATU

Kepala Bagian SDM, Umum, dan Komunikasi BPJS Kesehatan Cabang Batam, Ilham. (Dok. GK/Kafyan)

Batam, GK.com – Melakukan pengawasan dan penilaian terhadap fasilitas kesehatan mitra melalui mekanisme kredensialing bagian dari meningkatkan mutu layanan kesehatan untuk masyarakat yang diterapkan oleh BPJS Kesehatan Cabang Batam.

Terus mendorong kerja sama dengan berbagai fasilitas kesehatan (faskes), serta memastikan seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mendapatkan pelayanan yang merata, adil, dan berkualitas juga dilaksanakan, di tegaskan oleh Ilham selaku Kepala Bagian SDM, Umum, dan Komunikasi BPJS Kesehatan Cabang Batam.

Proses ini menilai kesiapan setiap faskes dilihat dari berbagai aspek, seperti Sumber Daya Manusia (SDM), kelengkapan sarana dan prasarana, hingga izin operasional yang dimiliki.

“Semua faskes yang ingin bekerja sama harus melalui proses penilaian. Kalau nilainya di bawah standar, belum bisa kami ajak bekerja sama. Tujuannya untuk menjaga kualitas pelayanan kepada peserta JKN,” ujar Ilham, Rabu (12/11/2025).

Selain menilai kesiapan faskes, BPJS Kesehatan juga rutin melakukan evaluasi kinerja mitra. Penilaian dilakukan berdasarkan indikator seperti mutu pelayanan, kepuasan peserta, serta kepatuhan terhadap prosedur JKN.

“Tahun ini, terdapat penambahan jumlah fasilitas kesehatan yang bermitra dengan BPJS Kesehatan, baik di tingkat pertama FKTP maupun Rumah Sakit. Salah satunya adalah Rumah Sakit Awal Bros di kawasan Batu Aji, yang kini naik kelas tipenya. Kami juga berkomitmen menambah fasilitas mitra agar akses masyarakat terhadap layanan kesehatan semakin mudah, khususnya di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi,” tutur Ilham.

Untuk menjaga mutu layanan peserta, BPJS Kesehatan juga memiliki petugas khusus yang disebut BPJS SATU! yang bertugas membantu masyarakat dan memantau langsung pelayanan di lapangan.

“Kalau ada peserta yang merasa tidak dilayani dengan baik, kami akan tindak lanjuti. Petugas BPJS SATU! juga rutin melakukan kunjungan ke faskes, meski tidak bisa setiap hari karena keterbatasan personel. Namun dalam seminggu pasti ada jadwal kunjungan untuk memastikan kualitas pelayanan,” jelasnya.

Terkait sistem rujukan antara Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Rumah Sakit, Ilham menegaskan bahwa keputusan rujukan sepenuhnya berada di tangan dokter berdasarkan pertimbangan Medis.

“Kami hanya memastikan sistem rujukannya berjalan lancar dan sesuai prosedur. Urusan Medis tetap menjadi kewenangan dokter yang menangani pasien,” tambahnya.

Sementara itu, BPJS Kesehatan Batam juga memberi perhatian khusus terhadap pelayanan di daerah pulau-pulau sekitar Batam yang akses kesehatannya masih terbatas.

“Kami terus berkoordinasi agar masyarakat di wilayah pulau tetap mendapat pelayanan kesehatan yang layak, minimal melalui klinik atau fasilitas yang beroperasi 24 jam,” ungkap Ilham di Ruang Kerjanya, Pukul 15.00 WIB.

Menanggapi pertanyaan masyarakat soal tunggakan iuran, Ilham menjelaskan bahwa berdasarkan regulasi BPJS Kesehatan, peserta yang menunggak lebih dari 24 bulan hanya perlu melunasi iuran maksimal 24 bulan saat mengaktifkan kembali kepesertaannya.

“Saat ini memang ada rencana perubahan aturan terkait hal itu, namun kami masih menunggu regulasi resminya. Secara umum, kami di BPJS Kesehatan sangat terbantu dengan berbagai kebijakan Pemerintah yang meringankan peserta”. tutupnya. (KF/DS)

Sekda Pimpin Rapat Wujudkan Pasar Induk Jodoh di Era Amsakar-Li Claudia

Sekda Batam saat pimpin Rapat Bahas Pasar Jodoh. (Dok. Ade Rahmatullah)

Batam, GK.com – Rencana Tender Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) Barang Milik Daerah (BMD) untuk pembangunan Pasar Induk Jodoh di bahas dalam Rapat yang di pimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah,l.

Digelar oleh Panitia Pemilihan KSP BMD pada aset tanah milik Pemerintah Kota Batam, di Kantor Wali Kota Batam, Selasa (11/11/2025), melalui skema KSP ini, Firmansyah menjelaskan bahwa pembangunan dan pengelolaan pasar dilakukan oleh mitra swasta tanpa menggunakan anggaran Pemerintah Daerah, dan tidak mengalihkan hak kepemilikan tanah.

Sebaliknya, lanjut Firmansyah, Pemerintah Kota Batam justru akan menerima manfaat keuangan, yaitu Kontribusi tetap dan Pembagian keuntungan setiap tahun, serta seluruh bangunan hasil kerja sama akan menjadi aset milik Pemko Batam setelah jangka waktu 30 tahun selesai, atau dalam hal terdapat pemutusan kerjasama sepihak oleh Pemerintah Kota Batam.

Sekda Batam saat pimpin Rapat Bahas Pasar Jodoh. (Dok. Ade Rahmatullah)

“Hal ini dipandang sebagai solusi efektif untuk mempercepat penyediaan infrastruktur publik tanpa membebani APBD, sekaligus memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tegas Firmansyah.

Dalam arahannya, Firmansyah menegaskan pentingnya ketelitian dan kepatuhan terhadap aturan dalam pelaksanaan tender. Ia meminta seluruh panitia bekerja profesional agar proses pembangunan Pasar Induk Jodoh berjalan sesuai harapan.

“Panitia harus benar-benar fokus dan detail dalam mempersiapkan segala hal. Jangan bermain-main. Bekerjalah secara optimal dan profesional agar hasilnya maksimal,” tegas Firmansyah lagi.

Pada kesempatan itu, Firmansyah juga menuturkan, tender kerja sama ini tidak hanya berfokus pada aspek pembangunan, tetapi juga memperhatikan nilai estetika dan tata ruang kota. Menurutnya, keberadaan Pasar Induk Jodoh yang baru diharapkan dapat mengatasi persoalan kekumuhan yang selama ini terjadi di kawasan tersebut.

“Pimpinan telah mempercayakan sepenuhnya proses ini kepada panitia. Jadi, ini harus menjadi fokus bersama. Dengan niat baik dan semangat kolaborasi, kita berharap pasar induk yang telah lama diimpikan dapat terwujud di era kepemimpinan Amsakar-Li Claudia,” katanya.

Dalam rapat tersebut, panitia juga memaparkan bahwa terdapat 13 tahapan dalam Rencana Tender KSP BMD untuk Pasar Induk Jodoh. Tahapan dimulai dengan pengumuman resmi pertama pada Rabu (12/11/2025), dan pengumuman kedua pada Kamis (13/11/2025) yang akan dirilis oleh Panitia Pemilihan Kerja Sama.

Turut hadir pada Rapat tersebut, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Batam Abdul Malik, perwakilan dari Inspektorat Daerah, Dinas Kominfo, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi dan UKM, Kecamatan Lubukbaja, serta panitia pemilihan kerja sama. (AN)

Harga Cabai Tinggi di Batam, Berikut Penjelasan Disperindag

Salah satu pasar di Kota Batam. (Dok. GK/Kafyan)

Batam, GK.com – Lonjakan harga cabai di Kota Batam masih menjadi perhatian.

Selama hampir dua bulan terakhir, harga cabai merah tembus di kisaran Rp 80.000,- per kilogram. Kondisi ini terjadi karena Batam bukan wilayah produsen cabai, sehingga kebutuhan pasokan sepenuhnya bergantung dari luar daerah.

Diterangkan oleh Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam Wahyu Daryatin, pasokan cabai banyak didatangkan dari sejumlah daerah seperti Medan, Padang, Pulau Jawa, Mataram hingga Sumbawa. Perbedaan kualitas, jarak distribusi, hingga ketersediaan di daerah asal membuat harga cabai di Batam mudah berfluktuasi.

“Batam tidak memiliki sentral produksi cabai. Pedagang biasanya mengambil langsung dari berbagai daerah dengan volume dan kualitas yang berbeda, sehingga pergerakan harganya tidak selalu stabil,” ungkap Wahyu, Selasa (11/11/2025).

Baca juga: 👇👇👇

https://gerbangkepri.com/2025/11/09/harga-sembako-dan-cabe-merah-meroket-masyarakat-berharap-pemerintah-jangan-tutup-mata/



Untuk menjaga stabilitas harga, Disperindag Batam memperkuat koordinasi dengan pedagang dan pemasok agar ketersediaan pasokan tetap terjaga. Selain itu, pemantauan harga kebutuhan pokok dilakukan secara rutin tiga kali dalam sepekan di sejumlah pasar acuan.

“Pemantauan ini penting untuk memastikan harga tidak bergerak terlalu jauh dari kondisi wajar. Jika pasokan terganggu, kami membantu kelancaran administrasi dan distribusi agar barang tetap masuk ke Batam,” ujar Wahyu di Ruang Kerjanya, Pukul 14.00 WIB.

Sementara itu, sejumlah kebutuhan pokok lain seperti beras, minyak goreng, telur, dan daging tercatat relatif stabil. Contohnya, beras premium merek Harumas masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga konsumen masih dapat menjangkau harga tersebut.

Wahyu juga menjelaskan bahwa inflasi Kota Batam berada di angka 3,1 persen, masih dalam rentang aman secara Nasional yaitu 2,5 persen ± 1 persen. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Batam tetap bergerak dengan baik.

Ke depan, Pemerintah mendorong peningkatan produksi cabai lokal melalui kelompok tani dan program pekarangan. Namun, volume produksi lokal belum mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat, sehingga ketergantungan pasokan luar daerah masih belum dapat dihindari.

“Produksi cabai lokal tetap kita dorong, tetapi saat ini skalanya belum mampu memenuhi kebutuhan secara keseluruhan. Upaya penguatan produksi tetap dilakukan secara bertahap”. tegas Wahyu. (KF/DS)