Batam, GK.com – Lonjakan harga cabai di Kota Batam masih menjadi perhatian.
Selama hampir dua bulan terakhir, harga cabai merah tembus di kisaran Rp 80.000,- per kilogram. Kondisi ini terjadi karena Batam bukan wilayah produsen cabai, sehingga kebutuhan pasokan sepenuhnya bergantung dari luar daerah.
Diterangkan oleh Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam Wahyu Daryatin, pasokan cabai banyak didatangkan dari sejumlah daerah seperti Medan, Padang, Pulau Jawa, Mataram hingga Sumbawa. Perbedaan kualitas, jarak distribusi, hingga ketersediaan di daerah asal membuat harga cabai di Batam mudah berfluktuasi.
“Batam tidak memiliki sentral produksi cabai. Pedagang biasanya mengambil langsung dari berbagai daerah dengan volume dan kualitas yang berbeda, sehingga pergerakan harganya tidak selalu stabil,” ungkap Wahyu, Selasa (11/11/2025).
Baca juga: 👇👇👇
Untuk menjaga stabilitas harga, Disperindag Batam memperkuat koordinasi dengan pedagang dan pemasok agar ketersediaan pasokan tetap terjaga. Selain itu, pemantauan harga kebutuhan pokok dilakukan secara rutin tiga kali dalam sepekan di sejumlah pasar acuan.
“Pemantauan ini penting untuk memastikan harga tidak bergerak terlalu jauh dari kondisi wajar. Jika pasokan terganggu, kami membantu kelancaran administrasi dan distribusi agar barang tetap masuk ke Batam,” ujar Wahyu di Ruang Kerjanya, Pukul 14.00 WIB.
Sementara itu, sejumlah kebutuhan pokok lain seperti beras, minyak goreng, telur, dan daging tercatat relatif stabil. Contohnya, beras premium merek Harumas masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga konsumen masih dapat menjangkau harga tersebut.
Wahyu juga menjelaskan bahwa inflasi Kota Batam berada di angka 3,1 persen, masih dalam rentang aman secara Nasional yaitu 2,5 persen ± 1 persen. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Batam tetap bergerak dengan baik.
Ke depan, Pemerintah mendorong peningkatan produksi cabai lokal melalui kelompok tani dan program pekarangan. Namun, volume produksi lokal belum mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat, sehingga ketergantungan pasokan luar daerah masih belum dapat dihindari.
“Produksi cabai lokal tetap kita dorong, tetapi saat ini skalanya belum mampu memenuhi kebutuhan secara keseluruhan. Upaya penguatan produksi tetap dilakukan secara bertahap”. tegas Wahyu. (KF/DS)

