Sabtu, Juli 13, 2024
spot_img

Gunakan Chromebook, Jaringan Internet Jadi Kendala

Bintan, GK.com – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Bintan sudah menggunakan Chromebook sejak tahun 2019. Chromebook adalah laptop yang menggunakan sistem operasi Chrome OS dari Google. Laptop ini dirancang untuk mendukung pembelajaran berbasis digital yang sudah berjalan sejak pandemi Covid-19.

Meski demikian, penggunaan Chromebook di SMPN 16 Bintan masih mengalami kendala jaringan internet. “Kita sudah mendapatkan bantuan Chromebook sejak tahun 2019 sebanyak 15 unit, dan seperangkat lainnya yang berguna untuk menunjang pembelajaran digital. Tapi kita juga masih terkendala jaringan internet di sekolah,” ucap Humas SMPN 16 Budi Warman S.Pd pada Rabu (07/02/2024).

Menurut Budi, jaringan internet di sekolah sering putus-putus dan lambat. Hal ini menyulitkan siswa dan guru untuk mengakses materi pembelajaran, video, atau aplikasi yang ada di Chromebook. “Kita berharap ada solusi dari pemerintah atau pihak terkait untuk memperbaiki jaringan internet di sini,” kata Budi.

Selain itu, Budi juga menjelaskan tentang kurikulum yang diterapkan di sekolahnya. “Saat ini, pemerintah sudah menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai pengganti kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik,” ujarnya.

Untuk penerapan Kurikulum Merdeka, kegiatan di sekolah ada tiga kategori, yaitu intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler. “Intrakurikuler adalah proses belajar-mengajar yang berfokus pada materi esensial, relevan, dan mendalam. Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang menonjolkan bakat dan minat para siswa. Kokurikuler adalah kegiatan yang menguatkan intrakurikuler, misalnya P5,” terang Budi.

P5 adalah singkatan dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. P5 merupakan kegiatan kokurikuler yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan menguatkan pengembangan enam dimensi profil pelajar Pancasila. Enam dimensi tersebut adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; berkebhinekaan global; bergotong-royong; mandiri; bernalar kritis; dan kreatif.

Ditambahkan Budi, kurikulum merdeka ini ada kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah siswa dituntut untuk lebih aktif, kreatif, dan mandiri dalam belajar. Kekurangannya adalah guru harus lebih siap dan kreatif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. “Kurikulum ini ada plus minusnya, namun secara umum, kurikulum ini sangat membantu guru. Siswa juga merasa antusias karena telah diberikan kepercayaan dengan memiliki buku pegangan, buku paket, dan telepon masing-masing saat proses pembelajaran berlangsung,” ujar Budi.

Budi juga menyampaikan bahwa SMPN 16 Bintan sesekali mengadakan bazar di lingkungan sekolah. Bazar ini berguna untuk penilaian P5. “Contohnya, mereka membuat kuliner mengenai ubi dan ikan, karena melihat geografis daerah yang dominan pertanian dan kelautan. Mereka juga belajar tentang pemanfaatan hasil ekonomi dari lingkungan sekitar,” tutur Budi.

“Kami berharap kedepannya sekolah lebih berkembang, dan fasilitas lebih ditingkatkan lagi seperti sarana dan prasarana. Serta para siswa bisa lebih giat belajar,” tutup Budi. (Lrs).

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img