Sabtu, April 18, 2026
BerandaOpiniFaktor Ekonomi Dan Politik dari Kemiskinan di Tanjungpinang, Serta Dampak Sosialnya

Faktor Ekonomi Dan Politik dari Kemiskinan di Tanjungpinang, Serta Dampak Sosialnya

Ina Harlina, Mahasiswi Raja Haji Tanjungpinang
Ina Harlina, Mahasiswi Raja Haji Tanjungpinang

Kemiskinan dan pendidikan yang rengah merupakan sebuah paradoks dalam artian bahwa keduanya mempengaruhi satu sama lain, khususnya di Kota Tanjungpinang. Dalam pembahasan mengenai bagaimana tingkat pendidikan yang rendah dapat mempengaruhi kemiskinan, dapat dikatakan bahwa pendidikan sebagai modal bagi keluarga yang miskin untuk dapat mengakses peluang dalam pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak, namun mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak (baik itu karena masalah biaya, fasilitas, maupun kendala lainnya). Hal inilah yang membuat mereka tidak memiliki peluang besar untuk mengangkat diri mereka sendiri, hingga terjebak dalam kemiskinan. Di Tanjungpinang, rendahnya tingkat pendidikan juga membuat jumlah angkatan kerja yang berkualitas menjadi jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan total populasi dari Tanjungpinang itu sendiri. Berkembangnya ekonomi akan melahirnya kesempatan dalam bentuk pekerjaan tingkat tinggi yang membutuhkan kualitas angkatan kerja yang tinggi juga. Namun, jika tingkat pendidikan itu rendah, lantas bagaimanakah masyarakat Tanjungpinang yang berada dalam kemiskinan dapat berubah menjadi angkatan kerja yang berkualitas, sesuai dengan apa yang selayaknya dibutuhkan.

Selain itu, derivasi material dan sosial akibat keterbatasan sumber daya dan modal secara finansial, hal ini juga tentunya akan dapat membuat berkurangnya akses hingga ke barang dan jasa yang diperlukan untuk menjalani kehidupan yang layak.

Adapun sumber daya yang diperlukan meliputi: makanan bergizi yang cukup, pakaian yang memadai, perumahan yang terjangkau dan berkualitas dengan sanitasi yang baik, air bersih dan pasokan energi yang andal juga sangat dibutuhkaan dalam memberikan kenyamanan dan privasi, pendidikan non-diskriminatif di Sekolah yang dilengkapi dengan baik, perawatan kesehatan dan gigi yang terjangkau yang mudah diakses dan efektif, angkutan umum yang dapat diservis, serta lingkungan yang tidak berbahaya. Kurangnya akses ke sumber daya ini berarti individu, keluarga, dan masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, hidup bermartabat, atau memiliki waktu berkualitas yang cukup untuk pertumbuhan keluarga atau pribadi, serta anak sebagai tumbuh kembang secara normal.

Kurangnya sumber daya moneter, materi, dan sosial adalah dimensi kemiskinan yang paling terlihat. Kurangnya pekerjaan yang layak juga mengacu pada pengalaman umum berupa penolakan akses ke pekerjaan dengan upah yang adil, aman, teratur, dan bermartabat.

Seringkali orang mulai bekerja ketika mereka masih sangat muda, dan sejak saat itu mereka mengalami eksploitasi, perlakuan buruk dan penghinaan karena mereka tidak punya pilihan selain bekerja di pekerjaan yang secara aktif membayar mereka lebih rendah dan mengeksploitasi mereka.

Nah, di Kota Tanjungpinang sendiri, banyak dijumpai pekerjaan di eselon yang lebih rendah seperti pekerja pabrik, pembantu keluarga, dan pekerjaan bergaji rendah lainnya yang sangat terkait dengan eksploitasi, karena yang upah yang jauh di bawah standar. Dalam kasus kemiskinan di Tanjungpinang, ketidakmampuan finansial suatu keluarga akan dapat membatasi akses mereka terhadap pendidikan yang lebih tinggi, yang secara langsung akan mempengaruhi tingkat kemiskinan di Tanjungpinang secara spesifik, dan pada tingkat Provinsi maupun Nasional.

Tidak semua orang tanpa pendidikan hidup dalam kemiskinan yang ekstrem. Tetapi kebanyakan dari mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem tidak memiliki pendidikan dasar, menengah, apalagi tinggi. Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan juga akan lebih cenderung membuat anak-anak mereka tidak bersekolah, yang berarti bahwa anak-anak mereka juga akan memiliki peluang lebih besar untuk hidup dalam kemiskinan. Pendidikan sering disebut sebagai penyeimbang yang hebat. Pendidikan juga dapat membuka pintu untuk pekerjaan, sumber daya, dan keterampilan yang dibutuhkan sebuah keluarga untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berkembang. Akses ke pendidikan dasar berkualitas tinggi dan mendukung kesejahteraan anak adalah solusi yang diakui secara global untuk siklus kemiskinan. Pendidikan tinggi dapat membuka peluang kerja yang lebih besar dan gaji yang lebih besar untuk sebuah keluarga, sehingga dapat membawa mereka keluar dari garis kemiskinan.

Dapat dikatakan bahwa ada hubungan dua arah yang mendalam antara kemiskinan dan kesehatan. Artinya, orang-orang dengan akses terbatas ke pendapatan seringkali lebih terisolasi secara sosial, mengalami lebih banyak stres, memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk, dan lebih sedikit kesempatan untuk pengembangan anak usia dini, serta pendidikan pasca sekolah menengah. Mereka juga sering memiliki perumahan yang tidak memadai, lebih banyak terpapar polusi lingkungan dan tidak dapat mengakses makanan sehat. Sebaliknya, telah ditemukan bahwa kondisi kronis, terutama yang membatasi kemampuan seseorang untuk mempertahankan pekerjaan yang stabil, dapat berkontribusi pada penurunan kemiskinan.

Seiring pertumbuhan ekonomi di Tanjungpinang, kesempatan kerja dan pertumbuhan pendapatan, pasar tenaga kerja yang lebih kuat dan tingkat pendapatan yang lebih tinggi cenderung membantu keluarga yang hidup dalam kemiskinan bergerak di atas ambang kemiskinan.

Sementara untuk tingkat pembangunan ekonomi yang rendah menyebabkan kemiskinan yang bsar. Karena, sumber daya fisik dan alam kurang dimanfaatkan dikarenakan oleh kurangnya teknologi, modal dan kemampuan kewirausahaan yang juga memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi yang lambat.

Lebih spesifik lagi, secara sosiologis kemiskinan merupakan sebuah permasalahan sosial yang merupakan akibat dari sistem yang tidak dapat membantu mereka. Permasalahan sistemis ini kemudian akan menghasilkan dampak sosial yang cukup besar terhadap keluarga, terutama anak-anak yang hidup dalam garis dan lingkaran setan kemiskinan. Lingkaran setan kemiskinan berarti bahwa hambatan dan masalah seumur hidup diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengangguran dan pendapatan rendah menciptakan lingkungan di mana anak-anak tidak dapat bersekolah. Anak-anak harus sering bekerja untuk memberikan penghasilan bagi keluarga mereka. Adapun anak-anak yang mampu bersekolah, banyak yang gagal melihat bagaimana kerja keras dapat meningkatkan taraf hidup mereka sebagaimana mereka melihat orang tua mereka bersusah payah mengerjakan tugas sehari-hari. Pada akhirnya, kemiskinan adalah penyebab utama ketegangan sosial dan akan menjadi sebuah ancaman yang dapat memecah belah Bangsa, karena ketimpangan-ketimpangan yang ada.

Berita Terkait

Berita Populer