Minggu, April 12, 2026
BerandaKepulauan RiauKarimunFluktuasi Harga Cabai Bawang Hingga Alami Kelangkaan, Berikut Jadwal Pasar Pangan

Fluktuasi Harga Cabai Bawang Hingga Alami Kelangkaan, Berikut Jadwal Pasar Pangan

Karimun, GK.com – Terkait kenaikan beberapa harga barang di Karimun, terutama pada cabai dan bawang, hingga sempat mengalami kelangkaan di pasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Karimun melalui Kabid Perdagangan, Suhaimi Simbolon menuturkan harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Karimun masih mengalami fluktuasi akibat gangguan pasokan dari berbagai Daerah pemasok, serta kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Hal ini juga disampaikan dalam rapat koordinasi bersama Forkopimda pada Senin lalu, bahwa harga cabai yang sebelumnya sempat menyentuh Rp 96.000 per kilogram kini mulai turun menjadi Rp 91.000. Namun, meski turun, pasokan cabai tetap terbatas. Penyebabnya adalah cuaca hujan beberapa waktu lalu,” ujar Suhaimi.

“Selama ini pasokan cabai untuk Karimun banyak bergantung dari Medan dan Padang, namun kedua daerah tersebut sedang mengalami musibah bencana yang menghambat distribusi. Pasar Puan Maimun saat ini hanya mendapatkan suplai cabai dari Sulawesi, yang kebetulan sedang memasuki masa panen raya. Tapi pasokan dari Sulawesi pun harus dibagi ke banyak daerah lain,” jelas Suhaimi di Ruang Kerja, Kamis (11/12/2025).

Dinas berharap kuota pengiriman dari Sulawesi dapat ditambah. Upaya membantu masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) pun sedang dipersiapkan melalui rencana bazar pangan murah sebagai salah satu langkah untuk membantu masyarakat yang akan merayakan Nataru.

“Masalah serupa juga terjadi pada komoditas bawang, yang umumnya dipasok dari Medan, Padang, serta Jawa Tengah. Musibah banjir di Brebes selama sepekan membuat proses penjemuran bawang terhambat, sehingga banyak yang membusuk. Di Karimun memang ada bawang lokal, tapi jumlahnya sangat sedikit, untuk 10 KK pun tidak cukup. Karena kondisi ini, Karimun sebagai daerah pasar pemasaran sangat terdampak. Kalau dari daerah asal macet, ya kita di sini juga terdampak, terutama stok dan harga,” paparnya.

Dalam rapat Forkopimda, dijelaskan pula bahwa selama ini Karimun turut menikmati kemudahan pasokan dari Batam. Namun, kini Pemerintah Pusat melarang Batam melakukan impor beras dan sayur-sayuran dari Singapura maupun Malaysia. Dampaknya, suplai bagi Karimun ikut berkurang.

“Kita akhirnya harus mengandalkan daerah lain, tetapi kemampuan teknis pasokan mereka terbatas. Kami berharap ada kemudahan dari distributor untuk melakukan pemesanan langsung,” katanya Pukul 14.00 WIB.

“Gangguan pasokan juga terjadi pada telur. Telur berukuran besar dari Medan kini terhambat karena diprioritaskan untuk daerah terdampak bencana. Informasi ini diterima dari pihak penanggulangan bencana. Minggu lalu, Dinas Perdagangan telah melakukan rapat bersama Kepala Dinas Pangan. Salah satu terobosannya adalah meminta pedagang di Pasar Puan Maimun melakukan pesanan lebih banyak, serta meminta agar pasokan dari Kundur tidak dialihkan ke Batam atau Tanjungpinang, melainkan difokuskan ke Karimun,” ungkapnya.

“Bahkan secara umum, Pemerintah Karimun juga sudah memiliki MOU dengan daerah pemasok seperti Jawa Tengah, Padang, Medan, dan Sulawesi. Namun, dikarenakan cuaca buruk dan bencana alam membuat pasokan tidak bisa maksimal. Yang biasanya bisa dapat 1 ton, sekarang diminta di kurangi, kita tetap menerima. Untuk bawang, pengaturannya lebih rumit dibanding cabe, karena sumbernya lebih terbatas,” terang Suhaimi.

Pemerintah Karimun menjadwalkan Operasi Pasar Pangan pada 13–17 Desember 2025, dengan lokasi masing-masing hari:

– 14 Desember: Kampung Harapan
– 16 Desember: Halaman Kantor Camat Meral
– 17 Desember: Kolong

“Agenda ini merupakan kegiatan rutin menjelang Nataru, melibatkan kerja sama dengan distributor. Selain masyarakat umum, kegiatan ini juga ditujukan untuk membantu warga yang merayakan Natal. Untuk komoditas beras, cabe, dan bawang, Karimun masih bergantung 98% pada pasokan luar daerah. Kondisi semakin berat, karena larangan impor melalui Batam, serta pasokan dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau yang turut terdampak cuaca. Kalau pasokan benar-benar macet, mungkin kita bisa sampai makan ubi kayu”. katanya.

Untuk diketahui, pengecekan harga komoditas dilakukan setiap hari di Pasar Puan Maimun dan Pasar Meral melalui aplikasi SP2KP milik Kementerian Perdagangan. Ada sekitar 42 item yang dipantau, dan hasilnya dibandingkan dengan harga toko sekitar pasar. Selain itu, Dinas Pangan juga melakukan pengecekan harian yang langsung terhubung ke Badan Pangan Nasional. (DS)

Berita Terkait

Berita Populer