Sabtu, April 25, 2026
BerandaKepulauan RiauTanjungpinangNizar Berharap Kemenparekraf Dapat Memperhatikan Lingga

Nizar Berharap Kemenparekraf Dapat Memperhatikan Lingga

Lingga, GK.com – Dalam membangun Kepariwisataan di Kabupaten Lingga, Bupati Lingga Muhammad Nizar serius menjadikan Bunda Tanah Melayu sebagai tujuan wisata Sejarah dan Religi.

“Saat ini, Pemerintah Daerah terus berupaya mendorong adanya terobosan-terobosan terkait Pariwisata seperti, kegiatan yang terlaksana di Batu Berdaun. Atas bentuk kepedulian dari pemuda-pemuda, baik dari RG Peduli Kepri dan pemuda secara umumnya, Pemerintah berharap masyarakat juga memberikan suportnya,” ucap Nizar.

“Sesuai visi kita kedepan, Kabupaten Lingga harus menjadi daerah pariwisata yang populer, salah satunya menegakkan wisata sejarah, budaya, dan religi sebagai tapak sejarah melayu,” tambah Nizar.

Dia berharap, agenda kegiatan pariwisata di Kabupaten Lingga baik itu Tamadun Melayu Antar Bangsa, yang pernah digelar Pemkab Lingga pada Tahun 2017 silam, dan Festival Batu Berdaun Beach mendapatkan perhatian dari Kemenparekraf, bahkan memungkinkan bisa masuk pada kalender pariwisata Nasional.

“Sebagaimana catatan sejarah membuktikan, akar kebudayaan melayu bermula disini. Dan bahkan telah diakui oleh 6 Negera serumpun sebagai Bunda Tanah Melayu tahun 1990-an,” ungkap Nizar.

“Sejak Tahun 1787 lalu, Kesultanan Lingga – Riau bertamadun di Daik sebagai Pusat Pemerintahan selama 113 Tahun. Baru pada tahun 1900 berpindah ke Pulau Penyengat dan akhirnya dihapus oleh Belanda pada 1913. Saat ini, usaha kami dalam pengembangan wisata yang tidak ada di Kabupaten lain di Kepri. Kalau pantai pengembangan wisata bahari mungkin sudah ketinggalan selangkah. Ada wisata sejarah dan religi yang begitu sarat dari peninggalan Kesultanan Riau lingga selama 113 Tahun yang Pusat Pemerintahannya berada di Lingga, dan itu wisata yang tidak ada di Kabupaten lain yang ada di Kepri,” terang Nizar, Minggu (27/02/2022) di Pantai Batu Berdaun, Dabo Singkep.

“Lingga merupakan Negeri para Sultan, selain Daik sebagai Bunda Tanah Melayu, ada juga beberapa makam Sultan yang bersemayam di Pulau Lingga, termasuk pahlawan Nasional Sultan Mahmud Riwayat Syah III, yang namanya kini dipakai Pemerintah Kota Batam sebagai nama salah satu masjid agung disana,” jelasnya.

“Jujur, kami juga sempat berkecil hati, kehadiran pak Menteri beberapa waktu lalu di Pulau Penyengat, dan atas pengakuan Pulau Penyengat, sebenarnya induk kebudayaan melayu itu berada di Kabupaten Lingga, dan telah diakui sebagai Bunda Tanah Melayu,” katanya.

“Pada kesempatan ini, kami berharap Staff Ahli yang hadir nantinya bisa mengundang Menteri Sadiaga Uno untuk hadir di Kabupaten Lingga pada puncak peringatan HUT Kabupaten Lingga yang ke- 19 pada Bulan Oktober mendatang. Sekaligus ingin memantapkan Tamadun Melayu Antar Bangsa bisa menjadi bagian Pariwisata Nasional, sebagaimana yang pernah disampaikan ke Menparekraf, Sandiaga Uno beberapa waktu lalu saat saya masih berstatus Plt Bupati,” tuturnya.

Hal tersebut disambut positif Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Ari Juliano Gema yang turut mengapresiasi terselenggaranya Festival Batu Berdaun yang berjalan lancar dan baik.

“Festival atau tamadun bisa dilakukan secara terus menerus, atau menjadi program tahunan daerah. Namun tetap merekomendasikan keinginan Bupati Lingga, untuk dapat disampaikan ke Menparekraf, Sandiga Uno,” kata Ari Juliano.

“Mudah-mudahan, pak Menteri di lain kesempatan bisa hadir disini. Namun saya kagum atas kerjasama RG peduli Kepri bersama Pemerintah Daerah yang berjalan cukup baik. Dengan banyaknya potensi pariwisata, kedepannya kita berharap bisa di kemas dan dilakukan dengan kolaborasi bersama ekonomi kreatif, agar tetap terus terlaksana”. harapnya. dia. (Man/Ist).

Editor : Milla

Berita Terkait

Berita Populer