Beranda Hukrim Penggelapan Aset Perusahaan oleh TF, JPU Hadirkan 3 Orang Saksi

Penggelapan Aset Perusahaan oleh TF, JPU Hadirkan 3 Orang Saksi

133
0

BATAM, GK.com – Sidang kasus penggelapan dalam jabatan oleh terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng atas aset perusahaan PT. Taindo Citratama kembali di gelar oleh Pengadilan Negeri (PN) Batam, Senin (21/10) sekitar pukul 10.00 Wib.

Pada sidang yang digelar di Ruang Mudjono itu di Ketuai oleh Majelis Hakim Dwi Nuramanu didampingi Hakim Anggota Taufik Nainggolan dan Yona Lamerosa dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang di hadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Samsul Sitinjak dan Rosmarlina Sembiring.

Adapun ketiga orang saksi yang dihadirkan pada saat sidang tersebut berlangsung adalah Eka Pratama, Arjuna, dan Jamal Purba.

Ketiga orang saksi tersebut, saat ditanyai oleh Hakim Ketua, Dwi Nuramanu terkait dugaan aset yang di jual oleh terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng, menjawab bahwasannya mereka tidak mengetahui aset perusahaan itu dijual kemana, karena menurut mereka, tugas kerja yang mereka emban adalah bertugas untuk pengamanan di Perusahaan tersebut.

“Pada saat saudara berkerja sebagai sekuriti di Perusahaan PT. Taindo Citratama Tahun 2016 lalu, apakah saudara tahu aktifitas di Perusahaan seperti apa?,” tanya Majelis Hakim.

Mendengar pertanyaan tersebut, para saksi mengaku tidak mengetahuinya.

“Kami tidak tahu apa aktifitas sebenarnya di Perusahaan tersebut  yang mulia. Yang kami tahu tugas kami hanyalah sifatnya pengamanan, dan kami juga bekerja disana rata-rata hanya satu Tahun, bahkan ada yang baru jalan tiga Bulan” jelas salah satu saksi.

Apakah saudara sempat melihat ada aset-aset dari Perusahaan tersebut yang diangkut ?

“Ia, saya sempat melihat langsung kalau sebagian aset dari Perusahaan itu diangkut yang mulia, tetapi tidak tau mau dibawa kemana,” ucap saksi Eka Pratama.

Ketiga saksi yang dihadirkan itu, dicerca beberapa pertanyaan, baik dari Hakim, JPU maupun Panasihat Hukum (PH) terdakwa  Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng.

Para saksi juga mengaku kalau mereka tidak mengetahui siapa Direktur Perusahaan tersebut, termasuk pemilik Perusahaan, serta menyangkut segala aktifitas di Perusahaan itu, saat Majelis Hakim menanyakannya.

Seusai mendengarkan keterangan saksi, Majelis Hakim mengatakan bahwa sidang akan dilanjutkan pada Kamis mendatang.

Penasehat Hukum (PH) terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng, Supriyadi memberikan keterangan kepada sejumlah awak Media, usai melaksanakan persidangan.

 

Usai persidangan, Penasehat Hukum (PH) terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng, Supriyadi saat ditemui oleh awak Media ini di laur Ruang Sidang mengatakan, kalau Ia dan klien nya yang bernama Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng berharap agar korban, Ludijanto Taslim bisa segera hadir dalam persidangan selanjutnya, agar permasalahan ini cepat mendapat titik terangnya dan jelas.

“Nantinya kita akan sama-sama membuktikan aset Perusahaan ini sebenarnya milik siapa, jika barang ini milik Tahir Ferdian, tentunya masalah ini akan klier kan,” ungkap Supriyadi .

“Karena masalah ini sudah diperkarakan, ya tentunya kita serahkan kepada pengadilan, mudah-mudahan persoalan ini bisa adil menurut kita, dan dalam menanggapi laporan, pastilah ada prosesnya, tinggal kita buktikan saja nanti”. pungkas Supriyadi.

Sebagaimana diketahui, terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng selaku Komisaris PT Taindo Citratama memiliki saham sebesar 50 persen di Perusahaan yang bergerak di bidang Plastik di daerah Sekupang, Batam.

Terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng selaku Komisaris PT Taindo Citratama.

 

Tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Tahir menjual aset berupa Lahan, Bangunan dan Peralatan Produksi. Sehingga diperkirakan kerugian yang dialami oleh Direktur Utama PT Taindo Citratama, Ludijanto Taslim sebesar Rp 25,7 miliar.

Seperti diketahui, dalam dakwah JPU, saksi korban Ludijanto Taslim selaku Direktur Utama PT Taindo Citratama mengalami kesulitan permodalan. Saat itu, perusahaan sudah tidak mampu membayar kewajiban pada bank, sehingga aset-aset perusahaan yang dijamin, akan diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Kemudian, pada Tahun 2002, BPPN memberitahukan kepada Ludijanto Taslim bahwa, BPPN akan dibubarkan, maka BPPN memberikan kesempatan kepada saksi untuk menebus kembali asset-aset Perusahaan yang diambil alih oleh BPPN dengan kurs dollar  yang dihitung yaitu 1 dollar Amerika sebesar Rp 9.000,-. Padahal  saat itu kurs dollar Amerika  mencapai Rp 13.000,- dan  dari perhitungan BPPN, saksi Ludijanto Taslim hanya diwajibkan untuk menebus asset-aset Perusahaan tersebut sebesar kurang lebih 9 miliar.

Oleh karena mendapatkan keringanan tersebut, akhirnya saksi Ludijanto Taslim berkeinginan untuk menebus kembali aset-aset Perusahaan. Namun, karena saksi Ludijanto Taslim saat itu tidak memiliki modal, akhirnya Ludijanto Taslim menemui terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng di Kantornya di Jakarta.

Setelah bertemu Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng, Ludijanto Taslim meminjam modal dengan terdakwa sebesar Rp 9 miliar untuk menebus asset-aset yang diambil alih BPPN, serta modal untuk perbaikan Gedung sebesar Rp 1,2 miliar dan modal kerja sebesar Rp 7,5 miliar.

Pinjaman tersebut disetujui terdakwa dengan kompensasi Ludijanto Taslim mengalihkan 50 persen saham PT Taindo Citratama kepada Tahir Ferdian Lim Chong Peng. Pengalihan saham dilakukan di Notaris berdasarkan Akta Nomor 10 Tanggal 30 April 2003 yang dibuat oleh Diah Gubtari L. Doemarwoto, DH di Jakarta. Sehingga susunan pemegang saham berubah. Ludijanto Taslim 2.500 dan Tahir Ferdian 2.500.

Susunan direksi yakni Direktur Utama adalah Ludijanto Taslim, Direktur Koentjoro Paiman, Direktur Saryanto dan Komisaris terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng dengan tugas mengawasi kegiatan operasional suatu perusahaan atau organisasi dan seluruh aset-aset PT. Taindo Citratama. Semenjak itu, perusahaan pabrik Plastik tersebut kembali beroperasi hingga 2006.

Perusahaan kembali kekurangan modal dan melakukan PHK karyawan besar-besaran dan Perusahaan tidak beroperasi lagi. Saat itu, terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng masih melakukan pengawasan aset sebagaimana mestinya, dan hanya dibantu dengan 3 skuriti.

Pada Tahun 2010, terjadi kesepakatan antara Direktur Utama Ludijanto Taslim, Komisaris terdakwa Tahir Ferdian untuk menjual aset-aset dengagn catatan bila sudah ada pembeli maka dilakukan RUPS.

Pada Tahun 2013, Ludijanto Taslim mendapat pembeli dengan kesepakatan senilai Rp 36 miliar, namun pembayarannya menggunakan Bank Garansi. Akan tetapi terdakwa Tahir Ferdian Lim Chong Peng tidak percaya, karena sebelumnya sudah dua kali calon pembeli dari Ludijanto Taslim batal membeli. Untuk meyakinkan terdakwa, Ludijanto Taslim menjaminkan 3 sertifikat ruko atas namanya dan saat ini masih dikuasai oleh terdakwa Tahir Ferdian Lim Chong Peng.

Pada Tahun 2015, terdakwa memanggil saksi Direktur PT Taindo Citratama, Swaryanto Poen alias Atung dan dikenalkan dengan saksi Kia Sai alias Wiliam yang ingin membantu mengurus perusahaan yang sudah tidak lagi beroprasi, serta memerintahkan saksi untuk membuat Draf surat penunjukan kuasa pengelolaan pabrik. Namun hal itu tidak diketahui oleh Direktur Utama, Ludijanto Taslim.

Pada Tahun 2016, terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng tanpa sepengetahuan saksi Ludijanto Taslim dan tanpa RUPS akan menjual Bangunan, Tanah dan Mesin yang dikuasakan kepada William.

William yang sudah mendapat surat kuasa untuk menjual aset Perusahaan dari Komisaris Tahir Ferdian lalu menawarkan kepada pihak ke tiga. William juga berniat untuk membeli aset Perusahaan, serta telah melakukan pembayaran dua bidang tanah berstatus Hak Guna Bangunan (HGB) yang terletak di Kota Batam, bangunan atas nama PT Taindo Citratama.

Pihak kedua, dalam hal ini William membeli dua bidang tanah dan bangunan industri tersebut kepada pihak pertama, Tahir Ferdian dengan harga Rp 18 miliar yang dibayarkan bertahap.

Akibat perbuatan terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng dengan jabatan sebagai Komisaris dengan cara menjual aset-aset PT Taindo Citratama itu mengakibatkan saksi Ludijanto Taslim sekalu Direktur Utama PT Taindo Citratama mengalami kerugian sebessr Rp 25.776.000.000,- dan atas perbuatan terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng itu, diancam pidana dalam Pasal 374 KUHPidana. (Red).

Editor : Milla