Kamis, April 16, 2026
BerandaKepulauan RiauAnambasRupiah Semakin Lesu

Rupiah Semakin Lesu

Jakarta, GK.com – Naiknya harga minyak dunia memicu kekhawatiran investor terkait kondisi fiskal Indonesia. Pasalnya, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan, Kamis (09/04/2026).

Dengan depresiasi 0,44% ke Rp 17.085/US$. Rupiah menempati posisi terlemah di antara mata uang kawasan Asia lainnya.

Posisi Rp 17,085/US$ juga menjadi titik penutupan (closing) terlemah rupiah sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Setelah rupiah, rupee India dan yen Jepang menyusul dengan pelemahan di 0,31%, lalu ringgit Malaysia 0,27%, dan won Korea Selatan 0,26% dikutib dari Bloomberg Technoz.
Harga minyak mentah jenis Brent tercatat naik 3,36% ke US$97,93 per barel, sementara WTI naik 3,18% ke US$97,41 per barel.

Pemerintah mengumumkan tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Di sisi lain, cadangan devisa yang jadi bantalan stabilitas tercatat menurun selama tiga bulan beruntun sejak Januari 2026.

Pada Desember 2025, cadangan devisa tercatat US$156,47 miliar, lalu turun di Januari US$1,89 miliar menjadi US$154,58 miliar.

Kemudian pada Februari, cadangan devisa juga tergerus US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Maret cadangan devisa berlanjut menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.

Penurunan cadangan devisa pada Maret terlihat semakin dalam dan semakin terakselerasi karena tekanan eksternal yang cenderung persisten. Setelah perang pecah di Timur Tengah, rupiah terus bergejolak hingga Rp 16.995/US$ hampir menembus batas psikologisnya di level Rp17.000/US$.
Di sisi lain, pasar juga tengah bersiap menghadapi potensi volatilitas tambahan. Bulan depan, MSCI dijadwalkan akan meninjau ulang status klasifikasi pasar saham Indonesia. Hal ini akan menjadi faktor tambahan yang berpotensi memicu sensitivitas arus modal asing dalam jangka pendek. (dsp/aji/Red)

Editor: Milla

Berita Terkait

Berita Populer