Beranda Serba-Serbi Advetorial Sukseskan MTQ ke- IX Tahun 2022, DPRD Lingga Ekspose Pemakaian Tudung Manto

Sukseskan MTQ ke- IX Tahun 2022, DPRD Lingga Ekspose Pemakaian Tudung Manto

0
Foto DPRD Lingga
Foto DPRD Lingga

Lingga, GK.com – Sebagai wujud kebanggaan dan bertujuan untuk mempromosikan warisan budaya yakni Tudung Manto, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga melalui para istrinya yang tergabung dalam Persatuan Istri Anggota Dewan (Piswan) DPRD saat menghadiri kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX Tingkat Kabupaten Lingga seragam kenakan kain penutup kepala, yakni Tudung Manto.


Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tersebut berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu tanggal yaitu 19 s/d 20 Maret 2022 yang bertempat di Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga.

Foto DPRD Lingga


Menurut Ketua Persatuan Istri Dewan (Piswan), Lina Nashiruddin mengungkapkan, pihaknya mengenakan penutup kepala Tudung Manto tersebut bertujuan untuk mempromosikan keelokan Tudung Manto pada masyarakat, khususnya generasi muda kaum perempuan.


“Diharapkan dapat mempromosikan dan memperlihatkan kepada anak muda sebagai penerus Bangsa agar dapat turut serta mengembangkan, dan bangga terhadap Tudung Manto,” kata Lina Nashiruddin yang merupakan istri dari Ketua DPRD Kabupaten Lingga, Ahmad Nashiruddin.


Untuk diketahui, Tudung Manto telah memiliki sertifikat dan diakui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan HAM yang berasal dari Kabupaten Lingga. Lina Nashiruddin berharap keberadaan Tudung Manto tidak hanya sebatas dilestarikan, namun juga harus dapat berdampak pada kehidupan sosial dan perekonomian bagi masyarakat, maupun Pemerintah Daerah.


“Dengan ikut andil dalam pelestarian Tudung Manto, tentunya kita berharap kelestarian ini dapat lebih maju dan bisa merambah ke Luar Daerah,” harap Lina Nashiruddin.
Piswan sepakat, jika Tudung Manto yang telah mengantongi sertifikat HAKI dari Kemenkumham itu harus dapat benar-benar dilestarikan dan di kembangkan hingga dapat berdampak pada perekonomian masyarakat.


Piswan DPRD Lingga juga mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya kaum perempuan generasi muda untuk dapat menjaga, serts dapat melestarikan sekaligus bersama-sama mempromosikan Tudung Manto ke Daerah Luar, bahkan ke taraf Nasional dan Internasional.
Piswan juga sepakat terhadap upaya yang tengah digalakkan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lingga yang mana beberapa waktu lalu, tepat pada tanggal 07 s/d 21 Maret 2022 menggelar pelatihan pengrajin tenun Tudung Manto yang dilaksanakan di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.


Menurut Piswan, upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga bersama Dekranasda Kabupaten Lingga tersebut bertujuan untuk melestarikan Tudung Manto dengan melahirkan pengrajin tenun Tudung Manto.


“Tentunya dengan semakin banyak pengrajin tenun Tudung Manto, maka produksi Tudung Manto itu sendiri akan banyak dan memiliki stok. Tudung Manto banyak diminati oleh wisatawan yang datang ke Lingga. Dan itu salah satunya dapat meningkatkan perekonomian khususnya untuk para pengrajin Tudung Manto,” tutur Lina Nashiruddin.


Seperti diketahui, Bupati Lingga berharap dengan dilaksanakan pelatihan pengrajin Tudung Manto yang digelar oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lingga bersama Dewan Dekranasda Kabupaten Lingga menargetkan di tahun 2022 lahir sebanyak 100 orang pengrajin tenun Tudung Manto.


Lina Nashiruddin juga mengungkapkan jika dirinya bersama istri anggota DPRD Kabupaten Lingga lainnya sangat mendukung dan berupaya melestarikan, serta mempromosikan Tudung Manto. Ia menceritakan salah satu upaya yang dilakukannya yakni ketika mengikuti kegiatan Festival Tutup Kepala Perempuan Nusantara, dikesempatan itu kata Lina Nashiruddin, Ia memperkenalkan apa itu Tudung Manto, mulai dari history, cara pakai, dan proses pembuatan Tudung Manto serta sebagainya tentang Tudung Manto.


Upaya-upaya promosi demikian, lanjut Lina Nashiruddin menjelaskan, harus terus digalakkan dengan tujuannya agar Tudung Manto lebih terkenal seantero Negeri ini, bahkan sampai ke Luar Negeri. Dan Tudung Manto dapat menjadi bagian lain dari pendukung perekonomian masyarakat serta Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga.


Lebih jauh Lina Nashiruddin bercerita, Tudung Manto memiliki ciri yang khas dan sangat melekat dengan budaya melayu Lingga. Dalam pembuatannya, untuk dapat menghasilkan satu helai Tudung Manto memerlukan keterampilan, kesabaran dan ketelitian serta membutuhkan waktu yang tidak singkat.


“Ibu Syarifah Puspawati Agusmarli merupakan salah satu pengrajin Tudung Manto, beliau telah memproduksi beberapa Tudung Manto,” ujar Lina Nashiruddin.


Piswan DPRD Lingga mengaku sangat mendukung program Pemerintah Daerah dalam melestarikan Tudong Mantu di setiap kegiatan atau even – even yang diselenggarakan baik oleh Kabupaten maupun Provinsi. Dengan demikian, diharapkan Tudong Manto bisa lebih dikenal oleh masyarakat baik lokal maupun mancanegara. Sehingga bisa menjadi salah satu produk unggulan untuk dipromosikan kepada Daerah lainnya sebagai salah satu produk lokal yg sangat cocok untuk dijadikan sebagai buah tangan ataupun souvenir bagi yang berkunjung ke Kabupaten Lingga.


“Kami juga berpartisipasi dalam mempromosikan Tudong Manto sebagai salah satu produk unggulan dari kabupaten Lingga. Dengan semakin dikenalnya Tudung Manto ini, maka tentu akan mampu menyumbangkan PAD bagi Kabupaten Lingga melalui pengrajin-pengrajin yang memproduksi Tudong Manto,” tegas Lina Nashiruddin.


Untuk itu, mari bersama jadikan pemakaian Tudong Manto menjadi identitas wanita melayu, khususnya di Kabupaten Lingga. Bangga memakai dan memperkenalkan produk lokal kebanggaan Kabupaten Lingga. “Bertudong Manto Berkain dagang itulah perempuan Melayu”.


Diketahui belum lama ini pada pembukaan pelatihan Tudung Manto, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lingga, Marathusholiha mengatakan, pelatihan yang dilaksanakan selain dalam upaya mendukung pelestarian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015 lalu juga untuk meningkatkan jumlah produksi Tudung Manto.


Kegiatan ini juga difungsikan untuk memotivasi masyarakat guna mempertahankan maupun mencintai produk lokal yang merupakan khazanah kebudayaan Melayu. Selain itu, pelatihan pembuatan Tudung Manto juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan.


“Kita harus serius dan fokus dalam mempertahankan dan melestarikan warisan budaya asli Kabupaten Lingga ini, agar lebih bisa dikenal luas oleh masyarakat luar. Jangan sampai warisan ini tenggelam, dan pada akhirnya diambil daerah lain,” tegas Marathusholiha yang merupakan istri dari Bupati Lingga Muhammad Nizar.


Sebagaimana diketahui, Tudung Manto telah mendapatkan HAKI, sejak 2010 dengan pengakuan secara perorangan atau pribadi. Dan seiringnya waktu, pada tahun 2021 Hak Cipta atas Tudung Manto kini melekat pada Pemerintah Kabupaten Lingga.


Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka perlindungan Pengetahuan Tradisional berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.


“Saya mengajak untuk mewariskan keterampilan menekat Tudung Manto, dengan cara melakukan perekrutan generasi muda, demi melestarikan khazanah Bangsa Melayu,” ajak Marathusholiha
Senada dengan yang disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lingga.

Muhammad Nizar selaku Bupati Lingga juga terus mendorong dan memberikan dukungan terkait pelestarian dan mempromosikan serta meningkatkan produksi kerajinan tangan penutup kepala Tudung Manto ini.


Menurut Bupati Lingga Muhammad Nizar, sebelum diadakan pelatihan pengrajin Tudung Manto, Ia mencatat hanya terdapat 20 orang pengrajin Tudung Manto. Hal itu diungkapkan Muhammad Nizar pada 13 November 2021 saat membuka secara resmi kegiatan Fashion Show Tudung Manto yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga di Taman Tanjung Buton, Daik Lingga.


“Saat ini hanya tersisa 20 pengrajin, dan untuk kedepannya harus mendapat penambahan jumlah pengrajin serta untuk peningkatan jumlah produksinya,” terang Muhammad Nizar.


Untuk melestarikan dan meningkatkan jumlah prosuksi Tudung Manto, Bupati Lingga meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lingga bersama Dekranasda Kabupaten Lingga untuk bergandengan melakukan upaya menciptakan pengrajin-pengrajin baru Tudung Manto dan meningkatkan jumlah produksi Tudung Manto.


Terhadap Tudung Manto, Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga dan DPRD Kabupaten Lingga bersama-sama sepakat dan mengajak seluruh elemen masyarakat Kabupaten Lingga yang dijuluki Bunda Tanah Melayu ini untuk melestarikan dan mempromosikan Tudung Manto ke Daerah Luar, Nasional maupun Internasional. (*).

Editor : Milla