Beranda Kepulauan Riau Tanjungpinang Hima Persis Kepri Kecam Presiden Prancis Dalam Aksi Protes di Pulau Perdamaian

Hima Persis Kepri Kecam Presiden Prancis Dalam Aksi Protes di Pulau Perdamaian

81
0
Hima Persis Kepri saat menggelar aksi di Pulau Perdamaian

Tanjungpinang, GK.com – Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PW Hima Persis) Kepulauan Riau menggelar aksi protes atas pernyataan Presiden Prancis mengenai penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang dianggap olehnya sebagai sebuah kebebasan berekspresi.

Hal ini dipicu oleh Media di Prancis yang membuat sebuah karikatur Nabi Muhammad SAW dan juga pernyataannya mengenai umat muslim sedang mengalami krisis, sehingga hal ini memicu kemarahan seluruh umat Islam di dunia, begitu juga di Indonesia, karena ini dianggap sebagai bentuk penghinaan.

Berbagai gerakan aksi protes telah dilaksanakan di penjuru dunia maupun di Indonesia, eskalasi gerakan protes ini terjadi bermacam-macam, mulai dari seruan pemboikotan terhadap produk-produk dari Prancis sampai adanya demostrasi yang dilakukan ke Kedutaan Besar Prancis di berbagai Negara.

Aksi yang digelar oleh Himpunan Hima Persis Kepulauan Riau dengan cara menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk Prancis juga protes dengan cara penyampaian pernyataan sikap serta memajang wajah Presiden Prancis dengan memberikan tanda silang sebagai bentuk kemarahan.

Ketua Umum PW Hima Persis Kepri mengatakan, Tommy Yandra saat menggelar aksinya di Pulau Penyengat pada Minggu (9/11) sekitar pukul 15.30 Wib mengatakan, “aksi ini kami gelar di Pulau Penyengat atau yang kita sebut sebagai Pulau Perdamaian, hal ini dilakukan sebagai respon terhadap penghinaan yang dilakukan oleh Presiden Prancis kepada umat muslim di dunia, kami memilih melakukan aksi protes ini di Pulau Perdamaian karena kami menilai bahwa ditetapkannya Pulau ini sebagai Pulau Perdamaian, yaitu representasi bahwa ketika perdamaian itu ada di dunia, maka seluruh tatanan kehidupan manusia akan berjalan dengan baik dan itu akan menciptakan sebuah keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam berbangsa dan bernegara, juga sesama umat beragama,” ujarnya.

Adapun tuntutan yang di sampaikan PW Hima Persis Kepri yaitu :

1. Mengecam pernyataan Presiden Prancis terkait penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dengan mengatakan pernyataan tersebut sebagai bentuk kebebasan berekpresi ;

2. Menyerukan kepada masyarakat Kepulauan Riau untuk melaksanakan aksi pemboikotan terhadap produk-produk dari prancis ;

3. Menuntut kepada Presiden Prancis untuk segera meminta maaf kepada seluruh umat muslim di dunia.

4. Mendesak Kedutaan Besar Prancis untuk menyampaikan pernyataan sikap ini kepada Presiden Prancis dengan segera meminta maaf kepada umat muslim di seluruh dunia terkait pernyataanya.

“Secara historis, Pulau Penyengat menyimpan berbagai catatan tentang keislaman, hal ini dibenarkan karena, Pulau ini adalah tempat berdirinya Kerajaan Melayu yang kita ketahui bersama bahwa setiap kultur pada kerajaan Melayu sangat kental dengan nilai-nilai keislaman. Maka aksi yang kami lakukan ini sebagai bentuk penyampaian terhadap publik bahwa hari ini agama Islam sedang dilecehkan dan kita tidak boleh diam akan hal itu” tutur Tommy.

Sementara itu, Waketum PW Hima Persis, Roni Bastiar menambahkan, “lewat Pulau Perdamaian ini kita serukan, bahwa ketika perdamaian yang telah dibangun antar umat beragama tetapi dirusak oleh segelintir orang-orang yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi, maka kita gaungkan pula bentuk perlawanan dari pulau yang disimbolkan sebagai perdamaian. Kami juga menyerukan kepada umat muslim khususnya di Kepri untuk melakukan pemboikotan terhadap produk-produk Prancis, karena ini adalah salah satu jalan efektif untuk memberikan efek terhadap Presiden Prancis agar tidak gegabah dalam menyampaikan sebuah pernyataan terlebih lagi yang menyinggung kepercayaan suatu umat, ketika sebuah penghinaan dianggap sebagai bentuk kebebasan berekspresi maka kita juga akan lakukan kebebasan berekspresi itu lewat ekonomi dengan cara Boikot Produk Prancis”. tutupnya. (Mis).

Editor : Febri