Batam, GK.com – Kegiatan Posyandu di Puskesmas Botania terus dilaksanakan sebagai bentuk mengintegrasikan berbagai program kesehatan lainnya, seperti Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), imunisasi, serta program gizi. Hal itu disampaikan Kepala Bagian Tata Usaha Puskesmas Botania, Hasan, SKM.
“Kami mengkoordinasikan seluruh kegiatan Posyandu agar sejalan dengan program kesehatan lain, seperti KIA, imunisasi, dan gizi. Semua pelayanan tersebut terpusat di Puskesmas sebagai pembina utama Posyandu,” ujarnya di Ruang Kerja, Sabtu (29/11/2025).
Dijelaskannya, dalam hal pendataan, Puskesmas Botania telah menggunakan aplikasi IPUS (Informasi Puskesmas Elektronik) sebagai sistem pendaftaran dan pencatatan pasien berbasis digital.
“Seluruh pasien yang berkunjung didaftarkan melalui aplikasi IPUS. Data tersimpan secara elektronik, sehingga saat dibutuhkan tinggal ditarik. Sistem ini mempermudah pelayanan, mulai dari pendaftaran hingga rujukan ke poli, seperti Poli Lansia, Poli Anak, maupun IGD. Pasien juga tidak perlu lagi mengantre panjang di loket,” jelas Hasan Pukul 13.30 WIB.
Terkait ketersediaan logistik Posyandu, seperti vaksin, vitamin, alat timbang, dan bahan edukasi, perencanaannya dilakukan secara bersama-sama antara Puskesmas dan Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan.
“Perencanaan logistik berasal dari Puskesmas dan Posyandu, kemudian diusulkan ke Dinas Kesehatan. Alat timbang sebagian dianggarkan melalui Posyandu, sedangkan vaksin dan obat-obatan disuplai oleh Dinas Kesehatan,” terangnya.
Dalam peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia, Puskesmas juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk program pembinaan dan pelatihan kader Posyandu.
“Pelatihan serta pendampingan kader dilakukan secara berkala melalui kegiatan lokakarya mini di tingkat Kelurahan. Evaluasi terus dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi para kader,” katanya.
Untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas, Puskesmas Botania memanfaatkan teknologi informasi dalam pelayanan dan pelaporan.
“Hampir seluruh pelayanan saat ini sudah berbasis IT melalui aplikasi IPUS. Kendala hanya terjadi pada tahap awal penggunaan, namun setelah beradaptasi, sistem ini sangat membantu dalam pelayanan serta pemantauan kegiatan, termasuk kegiatan Posyandu,” ujarnya.
Hasan juga mengungkapkan, tantangan utama dalam pengembangan Posyandu adalah rendahnya tingkat kehadiran masyarakat akibat kesibukan kerja.
“Jumlah sasaran cukup banyak, namun yang hadir sering tidak sesuai target, karena sebagian besar warga bekerja. Untuk mengatasinya, kami melakukan koordinasi lintas sektor serta menyesuaikan waktu pelayanan agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan Posyandu”. tutupnya. (DS)

