Beranda Hukrim Janjikan Masuk IPDN, VS Malah Nginap di Balik Jeruji Besi

Janjikan Masuk IPDN, VS Malah Nginap di Balik Jeruji Besi

145
0

Tanjungpinang, GK.com – Modus lulus masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang di lakukan oleh “VS” akhirnya berujung di balik jeruji besi.

Berdasarkan konferensi Pers yang di gelar oleh Polres Tanjungpinang pada Jum’at (4/6/2021), Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang AKP Rio Reza Panindra, S.I.K didampingi Kasi Humas Polres Tanjungpinang Iptu Suprihadi dihadapan rekan-rekan Media menjelaskan kronologis atas kejadian tersebut.


Adapun kronologis kejadian berawal pada Bulan Maret 2019, saudara “DW” mengatakan kepada anak pelapor yang bernama “YZ”, bahwa tantenya saudari “VS” bisa memasukkan seseorang untuk masuk ke jenjang pendidikan IPDN, lalu setelah itu anak pelapor memberi tahu kepada pelapor. Dan setelah itu, pelapor langsung melakukan pertemuan dengan terlapor “VS” di salah satu Café yang terletak di Jl. Basuki Rahmat. Setelah bertemu terlapor “VS” meyakinkan pelapor bahwa anak pelapor bisa masuk IPDN, dan setelah beberapa kali pertemuan pada hari Rabu tanggal 10 April 2019 Sekitar pukul 09.00 Wib di Jl. DI. Panjaitan Km. 7 Kota Tanjungpinang, pelapor menyerahkan uang sebesar Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) kepada terlapor “VS” agar dapat menguruskan anak pelapor masuk ke pendidikan IPDN. Lanjut sekitar Bulan Mei 2019, anak pelapor mengikuti proses ujian teknis kemampuan dasar (TKD) dan anak pelapor tidak lulus, kemudian pelapor memberi tahu terlapor “VS” dan terlapor menjawab “nanti bisa lewat jalur belakang begitu sudah mengikuti pelantikan siswa dan tunggu saja nanti di Bandung,” terangnya.

Dan setelah itu, pelapor dan anak pelapor berangkat ke kampus IPDN dan menunggu terlapor “VS” di kantin kampus IPDN Jatinangor dengan tujuan menunggu arahan dari terlapor dan terlapor mengatakan “untuk sekarang ini tidak bisa masuk, tapi tunggu saja pada saat siswa setelah mengikuti pendidikan dasar diakpol dan setelah siswa kembali ke barak kita sisipkan” dan akhirnya anak pelapor mengikuti arahan terlapor “VS” dan sampai 2 (dua) bulan kemudian, anak pelapor tidak juga bisa masuk dan akhirnya pelapor kembali menghubungi terlapor “VS” dan terlapor mengatakan akan mengembalikan uang pelapor. Sekitar bulan November 2019, terlapor VS menyerahkan uang sebesar Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) kepada pelapor dengan tanda terima dipegang oleh terlapor dan kemudian sekitar Bulan Desember tahun 2019, terlapor VS menyerahkan CEK Bank Mandiri Tanjungpinang An. PT. KAP senilai Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah). Namun setelah pelapor kliring ke Bank Mandiri bahwa Cek tersebut tidak ada dananya, lalu pelapor pun memberitahukan hal tersebut kepada terlapor “VS” dan terlapor mengatakan nanti akan dibayar langsung selanjutnya diawal tahun 2020. Terlapor “VS” kembali menyerahkan uang sebesar Rp.70.000.000,- (tujuh puluh juta rupiah).

Dan sebulan kemudian, terlapor “VS” kembali menyerahkan uang sebesar Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) kepada pelapor dan total uang yang telah diserahkan oleh terlapor VS kepada pelapor adalah sebesar Rp.190.000.000,- (seratus sembilan puluh juta rupiah), sedangkan sisanya sebesar Rp.110.000.000,- (seratus sepuluh juta rupiah) sampai saat sekarang ini tidak ada kepastian atau itikad baik dari terlapor “VS” untuk mengembalikan, sehingga pelapor melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian guna proses selanjutnya.

Setelah dilakukan penetapan tersangka terhadap tersangka “VS” pada tanggal 23 April 2021 lalu, kemudian dilakukan pemanggilan sebagai tersangka terhadap “VS” pada tanggal 26 April 2021, dan pada tanggal 11 Mei 2021 (Tidak Hadir). Kemudian pada hari Senin tanggal 31 Mei 2021 sekira pukul 15.22, tersangka “VS” datang ke kantor Sat Reskrim Polres Tanjungpinang dengan didampingi penasehat hukum/pengacara guna dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka, setelah pemeriksaan selesai dilaksanakan terhadap tersangka “VS” dilakukan penangkapan guna penyidikan lebih lanjut.

Kemudian, AKP Rio Reza Panindra, S.I.K kembali mengatakan, tersangka “VS” mengaku telah menerima dan menandatangani kwitansi penerimaan uang sebesar Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dari pelapor untuk pengurusan IPDN An. “YZ” (anak pelapor), dan tersangka “VS” juga mengaku telah menyerahkan uang sebesar Rp. 60.000.000,- kepada pengajar dan kasi pemegang soal seleksi penerimaan IPDN atas nama inisial “A” dengan uang sebesar Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) kepada Dosen dan Kabag IPDN atas nama inisial “Z”. Sedangkan sisanya dipergunakan untuk transportasi dirinya ke Jakarta dan Bandung.

Saat ini, pihak kepolisian telah mengamankan barang bukti berupa :

1 (satu) Lembar Kwitansi Asli bertanda tangan “VS” bahwa telah menerima dari “TMZ” (pelapor) dengan uang senilai Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) untuk pengurusan masuk IPDN An. “YZ”.

1 (satu) Lembar CEK ASLI Bank Mandiri Cab. Tanjungpinang No. HY 963427 Tanggal 30 Desember 2019 Senilai Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) atas nama PT. KAP;

“Dalam peristiwa ini, korban mengalami kerugian senilai Rp 110.000.000 (Seratus Sepuluh Juta Rupiah), dan terhadap tersangka disangkakan Pasal 378 dan atau Pasal 372 K.U.H.Pidana dengan ancaman hukuman pidana penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun”. tegas AKP Rio Reza Panindra. (Hms).

Editor : Dina