Dirjen Imigrasi menolak keras terkait usulan perluasan Bebas Visa Kunjungan (BVK)
Adapun bentuk Penolakan Perluasan BVK tersebut diantaranya:
● Ditjen Imigrasi meminta agar usulan penambahan negara penerima Bebas Visa Kunjungan (BVK) dievaluasi dan dipikirkan matang-matang.
● Saat ini, kebijakan BVK dinilai sudah cukup diberlakukan untuk 16 Negara saja (ditambah 1–2 Negara dengan penyesuaian asas resiprokal/timbal balik). Sisa Negara lainnya harus menerapkan kebijakan yang sangat selektif (selective policy).
Sementara untuk Alasan Utama Evaluasi BVK diantaranya:
- Tidak Meningkatkan Devisa secara Signifikan:
Berkaca pada pengalaman tahun 2016, saat Indonesia membuka BVK untuk 156 Negara, kebijakan tersebut terbukti tidak menaikkan pendapatan devisa Negara. Uniknya, saat kuota diperketat menjadi hanya 16 Nrgara, pendapatan justru mengalami kenaikan.
2. Kualitas Wisatawan (Ancaman Backpacker):
Dengan kondisi 16 Negara saja, Indonesia sudah menghadapi banyak masalah keamanan dari WNA. Banyak wisatawan masuk secara tidak berkualitas (misal: backpacker yang menginap di kos-kosan/wisma ilegal) dan tidak memberikan dampak ekonomi signifikan pada okupansi hotel berbintang.
3. Harga Diri Bangsa:
Biaya visa masuk Indonesia sebenarnya murah (Rp500.000) dan tidak menjadi masalah bagi turis yang benar-benar mampu. Memberikan visa gratis secara massal sama saja dengan “mengobral” Negara, padahal warga Indonesia harus membayar mahal dan melalui proses rumit saat mengajukan visa ke luar negeri.
4. Kedaulatan Ekonomi dan Lapangan Kerja:
Imigrasi menyoroti maraknya fenomena WNA yang mulai mengakuisisi pekerjaan-pekerjaan masyarakat lokal yang seharusnya tidak boleh mereka ambil.
5. Citra Keamanan di Mata Dunia:
Sempat muncul isu Korea Selatan memberikan travel warning bagi warganya yang ingin ke Bali. Kriteria travel warning biasanya hanya untuk negara perang, wabah, atau bencana alam. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya menjaga stabilitas keamanan agar turis berkualitas tidak takut datang.
6. Infrastruktur Belum Siap:
Dirjenim memberikan analogi keran dan pipa: “Jika keran dibuka lebar-lebar (BVK diperluas) tetapi pipa-pipa infrastruktur keamanan dan maskapai kita masih kecil, maka arus tersebut tidak akan terserap dengan baik dan justru merusak.”
Editor: Milla

