Kepri, GK.com – Tingkat literasi masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Berdasarkan hasil pengukuran Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2024, Kepri berada di atas rata-rata Nasional dengan kategori A (Baik). Meski demikian, kesadaran masyarakat untuk membaca secara rutin masih perlu terus ditingkatkan, agar budaya literasi dapat tumbuh lebih merata di seluruh daerah.
Selasa (21/10/2025) Pukul 10.00 WIB, di Ruang Tamu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepri, Falen, S.Sos selaku Pustakawan Ahli Muda menyampaikan, upaya peningkatan literasi masyarakat terus dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai program dan inovasi layanan.
Menurut Falen, indikator pengukuran literasi mencakup ketersediaan dan pemanfaatan koleksi buku tercetak maupun digital, jumlah kegiatan literasi yang melibatkan masyarakat, kualitas SDM pustakawan, tenaga teknis, akses, partisipasi masyarakat terhadap layanan perpustakaan, hingga dukungan kebijakan serta anggaran dari Pemerintah Daerah.
Ia menjelaskan bahwa tingkat literasi di wilayah perkotaan seperti Tanjungpinang dan Batam relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten lain seperti Lingga, Natuna, dan Anambas. Hal ini disebabkan oleh kemudahan akses terhadap sumber bacaan dan teknologi digital. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Dinas Perpustakaan terus memperluas jangkauan melalui program perpustakaan keliling dan layanan digital.
Lebih lanjut, Falen menyebut rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca serta pengaruh gawai yang lebih sering digunakan untuk hiburan menjadi tantangan tersendiri.
“Banyak masyarakat yang lebih memilih bermain gawai atau menonton daripada membaca, padahal membaca bisa dilakukan melalui media digital maupun cetak,” tegasnya.
“Perpustakaan daerah kini tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga pusat edukasi dan pengembangan literasi masyarakat. Berbagai kegiatan seperti pelatihan, lomba literasi, promosi gemar membaca, serta kegiatan literasi digital terus digalakkan. Dinas juga mengembangkan layanan e-Kepri Digital Library yang memungkinkan masyarakat membaca ribuan buku digital secara gratis kapan saja dan di mana saja,” terang Falen.
Ditambahkan Falen, sejumlah program unggulan telah berjalan efektif, seperti Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), Gerakan Kepri Gemar Membaca, Perpustakaan Keliling dan Pojok Baca Desa, serta Pelatihan Literasi Digital dan Kewirausahaan Informasi. Melalui program tersebut, beberapa desa binaan bahkan sudah membentuk kelompok masyarakat mandiri secara ekonomi berkat pelatihan berbasis literasi informasi.
“Ke depan kami berencana menambah unit mobil perpustakaan keliling, serta memperluas jangkauan aplikasi iKepri Digital Library. Kami juga menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Desa untuk menyediakan pojok baca digital di setiap Kecamatan,” ungkapnya.
Selain bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Sekolah, dan perguruan tinggi, Dinas Perpustakaan juga menggandeng komunitas literasi dan pegiat baca untuk mengadakan bimbingan literasi, bedah buku, lomba menulis, hingga pelatihan pustakawan sekolah.
Falen menyoroti pula tantangan lain yang dihadapi, yakni rendahnya kesadaran orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka.
“Masih banyak orang tua yang terlalu fokus pada gawai untuk hiburan atau Media Sosial, sehingga waktu untuk mendorong anak membaca atau memanfaatkan layanan perpustakaan menjadi terbatas. Hal ini berdampak pada minat baca anak sejak dini. Karena itu, kami mendorong peran aktif orang tua sebagai mitra dalam membangun budaya literasi agar anak-anak terbiasa membaca dan memanfaatkan sumber informasi dengan bijak,” harap Falen.
Dukungan Pemerintah Daerah terhadap pengembangan literasi dinilai cukup kuat, baik dari sisi anggaran, maupun kebijakan. Sementara itu, partisipasi masyarakat juga meningkat melalui komunitas baca, sekolah, dan organisasi pemuda yang turut menyemarakkan kegiatan literasi di berbagai wilayah.
Sebagai bentuk transformasi layanan, Dinas Perpustakaan juga terus mempromosikan aplikasi iKepri Digital Library.
“Melalui iKepri, masyarakat dapat mengakses ribuan buku digital secara gratis kapan saja dan di mana saja tanpa harus datang ke perpustakaan. Aplikasi ini dilengkapi fitur edukatif, rekomendasi bacaan, serta program literasi digital yang menarik bagi generasi muda. Dengan iKepri, kami berharap literasi tidak lagi terbatas oleh jarak dan waktu, sehingga seluruh lapisan masyarakat Kepri dapat terus belajar dan berkembang”. tutup Falen. (KF)

