Jakarta, GK.com – Hamdan ATT wafat dalam usia 76 tahun. Ia meninggalkan warisan penting dalam sejarah musik dangdut Indonesia.
Selasa (1/7/2025) siang kabar duka datang dari linimasa Instagram. Lewat akun @hay_kal, unggahan singkat dan personal dari Haikal Attamami mewartakan wafatnya sang ayah, Hamdan ATT, penyanyi dangdut legendaris Indonesia, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah Aba @realhamdan.att pada jam 12.00. Mohon doanya,” tulisnya dalam format Instagram Story.
Hamdan ATT, yang lahir pada 1949 dan mengawali karier musiknya sejak 1964, wafat di usia 76 tahun. Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi soal penyebab wafatnya sang penyanyi. Namun jejak digital menunjukkan bahwa pada akhir 2024 lalu, Hamdan sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia dirawat karena pecah pembuluh darah yang menimbulkan penumpukan cairan di otak. Operasi dilakukan, termasuk pemasangan selang, dan pemulihan sempat berjalan berangsur-angsur.
Selama enam dekade lebih, Hamdan ATT menapaki dunia musik dangdut dengan konsistensi dan ketulusan yang jarang ditemukan hari ini. Ia dikenal luas lewat lagu “Termiskin di Dunia” yang meledak pada dekade 1980-an dan mengokohkan namanya sebagai salah satu ikon musik rakyat Indonesia. Lirik-liriknya berbicara tentang derita, kesetiaan, dan keteguhan hati dalam balutan melodi yang sederhana namun menyentuh.
Hamdan bukan sekadar penyanyi. Ia adalah representasi dari generasi pedangdut yang lahir dan tumbuh bersama denyut kehidupan masyarakat kelas bawah. Lagu-lagunya seperti “Berkawan Dalam Duka”, “Jangan Cintai Aku”, “Berdosa”, “Petualangan Cinta”, dan “Nurlela” mencerminkan getir kehidupan dengan kejujuran emosional yang khas. Lagu-lagu itu bukan hanya didendangkan, tetapi dihidupi oleh banyak pendengarnya.
Penghargaan Lifetime Achievement yang ia terima dari Indonesian Dangdut Awards pada 2021 menjadi semacam penutup babak publiknya yang agung. Tapi penghargaan terbesar yang dimiliki Hamdan mungkin justru datang dari ribuan panggung kecil, dari layar kaca hitam-putih hingga panggung rakyat di pelosok desa, tempat ia menghibur tanpa banyak drama.
Di tengah gelombang industrialisasi musik dangdut modern yang kini ramai dengan kemasan mewah dan viralitas, kepergian Hamdan ATT terasa seperti runtuhnya satu tiang tua dalam rumah panjang sejarah musik Indonesia. Ia menyanyikan nestapa dengan nada rendah hati, menjadikan dirinya jembatan antara tradisi dan kerinduan rakyat pada hiburan yang apa adanya.
Kini, suaranya tinggal gema. Tapi gema itu, justru yang akan terus terdengar dalam sejarah panjang musik dangdut Indonesia. (hdm)

