Senin, Mei 20, 2024
spot_img

Program Revitalisasi Gubernur Ansar di Sorot Tajam Tokoh Muda, Tua, Melayu Kepri

Kepri, GK.com – Gubernur Kepri Ansar telah mencanangkan program revitalisasi cagar budaya pada tahun 2022 dengan Total Anggaran Rp 20,8 miliar yang terdiri dari dana APBN Rp 15 Miliar dan APBD Kepri sebesar Rp. 5,8 Miliar. Di Tahun 2023 ini, Gubernur Ansar juga telah berhasil mendapatkan tambahan anggaran dari APBN sebesar Rp. 43 Miliar untuk Penataan Pulau Penyengat.

Sementara untuk rencana Revitalisasi Pulau Penyengat di Tahun 2024 akan dilaksanakan dengan penataan ruang terbuka publik. Itu artinya, program strategis Gubernur Kepri Ansar Ahmad ini sejak tahun 2022 menjadi program berkesinambungan di Pulau Penyengat, dan cagar budaya yang merupakan salah satu pusat peradaban Melayu baik di bidang Bahasa maupun Kebudayaan.

Untuk kita ketahui, Dana yang bersumber dari APBD Kepri Tahun 2022 sebesar Rp. 5,8 miliar telah selesai pekerjaan Revitalisasi Masjid Raya Sultan Riau Penyengat.

Revitalisasi Masjid Jami Sultan Lingga yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 3,4 miliar juga  telah rampung pengerjaannya.

Baca juga :

Pekerjaan Dinilai Tidak Sesuai Dengan Anggaran, APH di Harapkan Lakukan Lidik | gerbangkepri.com

Sesuai dengan fakta di lapangan, banyak ditemui pekerjaan yang terkesan dikerjakan secara asal-asalan ini pun mendapat sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat Kepulauan Riau, baik dari Tokoh Pemuda, Tokoh Melayu, maupun Tokoh Sejarawan.

Ketua Dewan Peduli Peninggalan Sejarah Hulu Riau (DP2SHR), Nuri Che Sidik, Sabtu (18/03/2023) menuturkan, “Yang melaksanakan proses rencana dari Pemerintah itu yang tak betul, tidak memahami makna dari revitalisasi. Mungkin mereka hanya dengar revitalisasi itu sebagai semacam slogan saja kah ? Revitalisasi tu memaknai hal yang sudah terperdaya, Masjid kan satu bangunan yang eksis. Tapi dia direvitalisasi, berarti di fokuskan menjadi sesuatu yang sangat penting. Maka dia di sebut direvitalisasi bahwa dia menjadi satu bangunan yang sangat penting sekali. Ketika Penyengat direvitalisasi, berarti memang programnya adalah menjadikan penyengat itu satu tempat yang sangat penting sebagai peninggalan sejarah,” tuturnya.

“Maka dari itu, pelaksana kegiatannya juga harus memaknai tujuannya. Disini apa yang di canangkan Gubernur ? Mencanangkan program revitalisasi itu seharusnya bisa mengartikannya dengan sungguh-sungguh, sehingga dapat melaksanakan kegiatan itu dengan benar dan tepat,” ucap Nuri Che Sidik.

“Saya salut lah dengan Gubernur Kepri sekarang, karena selama Kepulauan Riau ini berdiri, saya rasa baru beliau lah yang menganggarkan anggaran yang begitu besar untuk peninggalan bersejarah, benda cagar budaya. Walaupun itu Masjid, ada satu bangunan yang eksis, tapi makna dari program yang beliau canangkan itu memang tepat,” ujarnya.

“Sebenarnya tinggal bawahannya, menjalankan dengan betul atau tidak mekanismenya dalam melaksanakan kerja-kerja yang bersifat fisik di satu peninggalan cagar budaya. Tentu disini ada tahapannya, dan tak boleh sembarangan kayak perbaikan gedung-gedung biasa,” kata  Nuri Che Sidik.

“Tapi itulah saya juga heran, waktu saya pernah mengusulkan bahwa adanya syarat dari Perusahaan yang harusnya mengikuti tender itu harusnya ada sertifikasi untuk cagar budaya, tapi menurut orang-orang dari PU, tidak apa-apa lah, biar dapat yang lain-lain juga. Karena kalau sertifikasi cagar budaya, berarti Perusahaan dari luar yang mengerjakan, karena belum ada Perusahaan tersebut di Kepulauan Riau  yang punya sertifikasi,” tutur Nuri Che Sidik lagi.

“Sebenarnya ini satu momen lah untuk anak-anak Kepri juga yang punya Perusahaan-Perusahaan kontraktor. Ayolah, ini daerah kita, hampir setiap berapa meter ada cagar budaya, tentu ke depannya Pemerintah kita juga akan makin fokus terhadap penanganan cagar budaya. Maka dari itu, bagi kawan-kawan yang kontraktor, ayo ambil sertifikasi cagar budaya, jadi tahapan-tahapan ke depannya yang bersifat perbaikan terhadap cagar budaya bisa lebih baik, bisa lebih sesuai dengan mekanismenya, tidak asal-asalan. Karena ketika itu asal-asalan, maka tujuan dari Gubernur dalam mencanangkan program itu tidak tepat asaran lah dalam pengerjaannya,” ujar Nuri Che Sidik.

“Dengan anggaran masuk hampir Rp. 6 miliar ke Masjid Penyengat, mungkin kita lihat bakal wow pasti mengkilap ada hiasan emas atau apa lah. Tapi nyatanya kan hanya kita disuguhkan dengan catnya yang rontok,” ungkap  Nuri Che Sidik.

“Sebenarnya kerjaaan seperti ini tidak baik kalau saya bilang, karena tidak ada melibatkan pihak-pihak yang berkompeten terhadap cagar budaya, seperti kalau dulu ada BP3 batu sangkar sudah di Tanjungpinang, sekarang badan itu kan tidak perlu lagi kita ke Padang untuk kita berurusan secara budaya. Pakai libatkan mereka, tentunya mereka sangat paham. Saya kadang juga heran, kenapa orang-orang kita tidak mau melibatkan mereka. Saya pernah lebih kurang 2 Tahun bekerja sama dengan pihak BP3 batu sangkar dulu. Justru mereka orang-orang yang sangat friendly, mengedukasi kita agar lebih paham terhadap penanganan cagar budaya yang baik dan benar. Sehingga tidak ada pelanggaran-pelanggaran dari sisi perlindungan cagar budaya,” paparnya.

“Kita sebenarnya malas mau mempermasalahkan hal-hal ini lagi. Tapi kalau ini berterusan begini, tidak ada pilihan lain, kita sebagai aktivis yang selama ini fokus terhadap perlindungan penyelamatan cagar budaya, dulu-dulu juga berperang dengan siapa pun untuk masalah penyelamatan situs budaya di Kepulauan Riau ini, bila kita lihat ini berterusan seperti ini, tentu kedepan kita akan adakan class eksen”. tutup Nuri Che Sidik. (tim).

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles