Bintan, GK.com — Pagelaran Seni dan Pameran Hasil Karya Murid Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kijang menjadi bukti nyata bahwa pendidikan inklusif mampu melahirkan kreativitas, kemandirian, serta kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan hasil pembelajaran vokasi murid berkebutuhan khusus, tetapi juga mencerminkan kuatnya kolaborasi antara Sekolah, Pemerintah, dan Komunitas dalam membangun ekosistem pendidikan yang ramah dan berkelanjutan.
Kehadiran Ketua TP-PKK Kabupaten Bintan beserta jajaran, serta dukungan dari berbagai mitra semakin memperkuat komitmen SLBN Kijang untuk terus berkembang di tengah keterbatasan. Lebih dari sekadar pameran dan hiburan, kegiatan ini menyampaikan pesan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat serta lingkungan sekitarnya.
Dalam pameran ini, murid-murid menampilkan beragam hasil pembelajaran keterampilan vokasi, mulai dari tata boga, hortikultura, daur ulang, hingga seni lukis.
Selain pameran karya, panggung seni juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan musik, menyanyi, dan tari yang memukau. Pagelaran ini menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras murid sekaligus sarana untuk meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian mereka agar mampu berperan aktif di tengah masyarakat yang inklusif.
Pada kesempatan itu, Hafizha bersama pengurus TP-PKK Bintan dan Kepala DP3KB Kabupaten Bintan secara simbolis menyerahkan bingkisan peralatan sekolah sebagai bentuk kepedulian dan motivasi bagi para murid.
Puncak kegiatan ditandai dengan peresmian Ruang Teduh Laksmana Bentan, sebuah fasilitas hasil kolaborasi LSM Alim Provinsi Kepulauan Riau dan Bank Sampah Kembar Mandiri Tanjungpinang. Fasilitas ini diharapkan menjadi ruang yang nyaman sekaligus mendukung aktivitas pembelajaran dan kreativitas murid.
Kepala SLB Negeri Kijang, Tengku Syarifah Nadhrah menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Bintan serta seluruh mitra yang telah berkontribusi.
“Kehadiran Ibu Bupati dan peresmian Ruang Teduh ini menjadi energi baru bagi kami. Ini membuktikan bahwa murid-murid kami tidak berjuang sendirian. Hasil karya yang ditampilkan, mulai dari produk tata boga hingga panen hortikultura menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mandiri dan kreatif,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Senin (09/02/2026) Pukul 10.31 WIB.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan terhadap fasilitas sekolah, khususnya terkait ketersediaan sumber air mandiri.
“Harapan kami ke depan adalah terwujudnya kemandirian sumber air melalui pengadaan sumur bor. Sebagai sekolah yang menuju Sekolah Ramah Lingkungan untuk mendukung program Adiwiyata serta keberlanjutan vokasi hortikultura, air menjadi kebutuhan utama bagi kegiatan praktikum murid,” ungkapnya.
“Saat ini, operasional sekolah masih bergantung pada pembelian air, sehingga kemandirian sumber air dinilai sebagai investasi penting untuk efisiensi anggaran sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem hijau yang dirawat langsung oleh murid-murid SLBN Kijang. Melalui sinergi antara Pemerintah, Komunitas, dan pihak Sekolah, SLBN Kijang optimistis dapat terus mencetak generasi yang mandiri, kreatif, dan peduli lingkungan di tengah berbagai keterbatasan yang ada”. tutupnya. (KF)

