Karimun, GK com – Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai bahasa Isyarat, membuat teman tuli di Karimun mengalami kesulitan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman dengar (orang normal).
Saat ditemui Awak Media ini, Juru Bicara, Fasilitator sekaligus guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Sehati, Suci Rahmadani mengatakan, seseorang yang memiliki kekurangan pendengaran atau tunarungu lebih suka dipanggil teman tuli daripada tunarungu. Sebab, bagi teman tuli tuna artinya rusak sedangkan rungu artinya pendengaran.
“Dengan adanya kepedulian masyarakat terhadap teman tuli untuk mau belajar menggunakan bahasa isyarat, diharapkan bisa membantu teman tuli agar dapat berkomunikasi dengan teman dengar, ujar Suci Rahmadani, Selasa (28/09/21) sekitar pukul 09.30 Wib di Kantornya.
Sementara itu, diwaktu yang sama, salah satu teman tuli Karimun, Siska menuturkan Dirinya sangat berharap agar teman dengar mau sama-sama belajar bahasa isyarat.
“Kami juga ingin berinteraksi dengan teman dengar yang ada di Karimun, kami harap teman dengar mau belajar bahasa isyarat,” tutur Siska melalui panggilan video menggunakan bahasa isyarat.
Saat itu, Kasi Pengembangan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah, R. Dharma Afriyanti menjelaskan jika teman tuli berkomunikasi menggunakan isyarat dan mendengar menggunakan mata, maka teman dengar berkomunikasi menggunakan suara.
“Jika teman dengar mendengar menggunakan kuping, maka teman tuli menggunakan mata untuk mendengar”. tandasnya. (RP).
Editor : Dina

