Beranda Hukrim Aktivitas Pemotongan Kapal Tak Berizin Oleh PT GTI Dipertanyakan

Aktivitas Pemotongan Kapal Tak Berizin Oleh PT GTI Dipertanyakan

95
0

Batam, GK.com – Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait aduan masyarakat mengenai kegiatan pemotongan Kapal Acacia Nassau di Galangan Pax Ocean PT. Graha Trisaka Industri (GTI) Tanjunguncang yang diduga tidak memiliki Izin.

Pada RDP yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi I bidang Hukum dan Pemerintahan Budi Mardianto itu turut didampingi Wakil Ketua Harmidi Umar Husein, dan Anggota Komisi I Utusan Sarumaha, di Ruang Rapat Komisi I DPRD Kota Batam, Senin (1/3) pagi.

Dalam RDP tersebut, Budi Mardianto mengharapkan, melalui RDP ini nantinya akan mendapatkan penjelasan dari pihak-pihak terkait yang memiliki ruang dan kapasitas dalam menjelaskan terkait perizinan tersebut.

“Beberapa hari kemarin kami telah melakukan inpeksi mendadak (Sidak), dan memang benar dilokasi tersebut terdapat kegiatan pemotongan badan kapal. Menurut kami itu bukanlah lagi kegiatan Docking, melainkan pemotongan dan kemudian menjadi scrap (sampah),” paparnya.

Kemudian Drinya juga menuturkan, melalui Sidak kemarin, Ia juga mendapatkan informasi bahwasannya kapal tersebut datang ke Batam dalam kondisi mesin hidup atau tidak di tarik.

“Dan perlu kami informasikan juga bahwa Awak Kapal yang berada di Kapal itu berwarga Negara Asing,” kata Budi.

Sementara itu, HSE Asisten Manager PT. GTI Syukri menjelaskan, kapal ini pertama kali engker di lampu 1 atau dekat dengan perairan Sekupang, kapal ini terakhir dari Negara Australia dengan membawa 18 orang Anak Buah Kapal (ABK) berwarga Negara Asing.

“17 orang asal Filipina dan 1 orang berasal dari Negara Ukraina, awalnya kapal ini datang ke tempat kami pada tanggal 20 Oktober 2020 lalu, untuk melakukan konversi dari Kapal Cargo khusus, menjadi kapal Cargo General. Kapal ini saat datang beratnya mencapai 31 ribuan ton. mungkin ada kesalahan pada gambar, maka dilakukanlah pemotongan,” jelas Syukri.

Lalu Sukri mengatakan, sebelum dilakukan pemotongan kapal, pihaknya telah mengajukan perizinan beberapa bulan lalu, tetapi sampai sekarang pihaknya belum juga mendapatkan izin untuk melakukan pemotongan kapal dari Kementrian Perhubungan.

“Sejauh ini sudah dilakukan pemotongan sebesar 50%, ada beberapa potongan Kapal yang sudah terjual di Batam. Perusahan kami bergerak di bidang konversi atau pembuatan perbaikan dan daur ulang logam, namun saat ini pihak Perusahaan menghentikan sementara kegiatan tersebut dan akan dilanjutkan kembali apabila permasalahan ini selesai”. tukasnya. (RC).

Editor : Dina