Kamis, April 30, 2026
BerandaKepulauan RiauKarimunPemkab Karimun Tingkatkan Ketahanan Pangan dengan Diversifikasi Komoditas

Pemkab Karimun Tingkatkan Ketahanan Pangan dengan Diversifikasi Komoditas

Karimun, GK.com – Upaya Pemerintah Kabupaten Karimun dalam menjaga ketahanan dan ketersediaan pangan terus dilakukan secara bertahap. Hingga saat ini, kebutuhan pangan masyarakat Karimun masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Namun demikian, Pemerintah Daerah terus berupaya mengurangi ketergantungan tersebut dengan mendorong produksi pangan lokal.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun Sukrianto Jaya Putra. Dikatakannya, Bupati Karimun telah menginstruksikan agar berbagai potensi pangan yang ada di daerah dapat dimaksimalkan, salah satunya melalui pengembangan komoditas bawang.

“Untuk saat ini memang pangan kita masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Namun Pak Bupati sedang mengupayakan agar kita bisa memproduksi pangan, seperti bawang, sehingga ke depannya, ketergantungan tersebut bisa kita kurangi sebagai antisipasi,” ujar Sukrianto Jaya Putra melalui sambungan telepon, Jumat (09/01/2026) Pukul 13.40 WIB.

Sebagai langkah nyata, Pemerintah Daerah saat ini tengah menjalankan program penanaman bawang sebanyak 2.000 bibit yang berlokasi di kawasan stadion. Dalam program tersebut, Pemerintah berperan sebagai penyedia sarana dan prasarana pendukung. Menariknya, metode penanaman kali ini berbeda dari biasanya.

“Kalau biasanya penanaman bawang menggunakan umbi-umbian, untuk program kali ini kita menggunakan bibit dalam bentuk biji-bijian. Ini menjadi salah satu upaya inovasi yang kita lakukan untuk melihat efektivitas dan hasilnya,” ungkap Sukrianto Jaya Putra.

Ia menambahkan bahwa, dalam pelaksanaan program tersebut, Pemerintah Daerah juga tidak berjalan sendiri, melainkan membangun sinergi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Perdagangan, guna memastikan keberlanjutan dan dukungan terhadap pengembangan pangan lokal.

Dalam menjaga ketersediaan pangan secara menyeluruh, Pemerintah Kabupaten Karimun juga memiliki instrumen penting berupa neraca pangan. Neraca ini digunakan sebagai acuan dalam memantau kondisi pasokan dan kebutuhan pangan masyarakat di daerah.

“Kami memiliki neraca pangan yang menjadi acuan untuk memastikan ketersediaan pangan di Kabupaten Karimun. Dengan data ini, kami bisa melihat kondisi stok dan mengambil langkah antisipasi apabila diperlukan,” ujar Sukrianto.

Selain beras, kata Sukrianto, Pemerintah Daerah juga terus berupaya mendorong produksi pangan lokal lainnya. Sukrianto mengungkapkan bahwa Kabupaten Karimun pernah mencoba memproduksi beras secara mandiri pada tahun 2019. Namun, upaya tersebut tidak dapat berlangsung lama, karena keterbatasan lahan yang tidak sesuai untuk pengembangan sawah.

“Waktu itu, kita sempat memproduksi beras sendiri pada tahun 2019. Untuk sawah, kita membutuhkan lahan yang cukup luas, dan kondisi wilayah yang sesuai, dan itu menjadi tantangan tersendiri,” tuturnya.

“Selain faktor lahan, tantangan lain yang dihadapi adalah pola konsumsi masyarakat. Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa belum makan nasi, berarti belum makan. Padahal terdapat berbagai sumber pangan lain yang dapat dijadikan sebagai pengganti beras. Padahal, potensi pangan lokal di Kabupaten Karimun terbilang cukup besar. Daerah ini memiliki kebun sagu yang luas, serta komoditas lain seperti singkong dan ubi jalar yang dapat diolah menjadi sumber karbohidrat alternatif,” tambah Sukrianto.

Meski demikian, ia memastikan bahwa hingga saat ini kondisi kualitas dan ketersediaan pangan di Kabupaten Karimun masih berada dalam kategori aman. Pemerintah Daerah terus melakukan pemantauan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

“Untuk jangka panjang, Pemerintah Daerah telah menyiapkan strategi sosialisasi kepada masyarakat guna mendorong diversifikasi konsumsi pangan. Sosialisasi tersebut rencananya akan dilakukan melalui peran Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di Kabupaten Karimun, dengan melibatkan mereka dalam pengolahan menu berbahan pangan non-beras. Melalui langkah ini, diharapkan masyarakat dapat lebih terbiasa mengonsumsi pangan alternatif berbahan dasar ubi, sagu, dan singkong, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan”. tutup Sukrianto. (DP)

Berita Terkait

Berita Populer