Beranda Kepulauan Riau Tanjungpinang Akib Paparkan Kearifan Lokal Budaya Melayu pada Lokakarya Bersama Para Sastrawan

Akib Paparkan Kearifan Lokal Budaya Melayu pada Lokakarya Bersama Para Sastrawan

79
0

Tanjungpinang, GK.com — Sebanyak 135 peserta yang terdiri dari beragam kalangan mulai dari Dosen, Seniman, Akademisi, tokoh masyarakat dan bermacam keilmuan yang mencintai tradisi lisan di seluruh Indonesia mengikuti acara Lokakarya secara Daring yang digelar oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Acara yang digelar pada Kamis (6/8) ini, sengaja dilakukan secara Daring, mengingat kondisi Pandemi yang masih melanda Indonesia.

Gelaran acara kali ini sebagai penghormatan sekaligus mengenang Alm. Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, seorang Sastrawan besar Indonesia yang meninggal dunia pada 19 Juli 2020 kemarin.

Ketua ATL Indonesia Prof. Dr. Pudentia memulai acara dengan pengarahan secara singkat, kemudian dilanjutkan Pengantar dari Pembina ATL DR. Mukhlis Paene, sementara yang membuka Lokarya ini adalah Direktur Kepercayaan dan Penghayat Tuhan Yang Maha Esa, Syamsul Hadi.

Ketua ATL Kepuluan Riau, Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim., MT, yang juga merupakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang, berkesempatan membacakan puisi secara virtual dalam pembukaan Lokakarya Daring Asosiasi Tradisi Lisan tersebut.

Akib sapaan akrabnya, membaca puisi bertajuk “Sehabis Mengantar Jenazah” dalam kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono, dilanjutkan dengan persembahkan puisi “Cinta Kuntum Pecah” yang merupakan karyanya sendiri, khusus diciptakan Akib setelah kepergian Sang sastrawan.

Dr. M. Yoeseof, Pengurus ATL yang juga dosen Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia mempersembahkan lagu “Aku Ingin” secara akustik yang merupakan puisi karya Almarhum tahun 1989 yang juga dijadikan soundtrack film “Cinta Dalam Sepotong Roti”.

Kegiatan dilanjutkan dengan Kajian Tradisi Lisan oleh pemateri, diantaranya Prof. Dr. I Made Suastika ketua ATL Bali sekaligus dosen UNUD, Prof. Dr. Usman Rianse ketua ATL Sulawesi Tenggara yang juga dosen UHO, dan Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim., MT, Ketua ATL Kepri dan Kadis kominfo Tanjungpinang.

Dikesempatan itu, para Pemateri mempresentasikan hasil kajian tradisi di masing-masing daerahnya, Ketua ATL Bali menyampaikan tentang tradisi struktur bangunan dan tata letak perkampungan adat di Bali. Ketua ATL Sultra, memaparkan implementasi kearifan budaya di daerahnya, dan Ketua ATL Kepri pada kesempatan itu memaparkan kearifan lokal tradisi lisan tanah Melayu.

Sementara itu, dalam materinya, Akib mempresentasikan Kearifan lokal tradisi lisan yang dipetik dari puisi Sapardi Djoko Damono, dengan mengaitkan puisi karya Sapardi dengan tradisi lisan.

Diawal, Akib memaparkan warisan budaya lokal melayu seperti penyelenggaraan prosesi adat atau penyambutan orang besar, upacara, tepuk tepung tawar, tanjak, baju kurung, juga tradisi lisan berpantun.

“Kearifan lokal tradisi lisan menjadi acuan, sandaran, pegangan dan ingatan setiap individu di dalam suatu suku-bangsa untuk menjadi individu yang senantiasa dapat memfungsikan akal pikiran dan hatinya, serta memanfaatkan badannya (tenaganya) hanya untuk kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan,” tutur Akib.

“Kearifan lokal tradisi lisan telah menjadi sisi etik, standar moral, takaran budi pekerti yang melekat terhadap seseorang di dalam kelompok atau suku-bangsanya,” lanjutnya.

Menurut Akib, para penyair yang memanfaatkan tradisi (sastra) lisan di dalam karya sastra modernnya, terutama puisi, tidaklah mengambil atau menyalin seluruh bantuk (model) tradisi lisan berupa mantra, pantun, sapah-serapah, rampai-rampai, tawar-sejuk-sedingin ataupun jampi-jampi yang hidup berkembang di tengah masyarakat.

Para penyair akan melakukan ekprimen secara mendalam dan sungguh-sungguh terhadap tradisi lisan yang dipahaminya, dan akan berpikir keras apa yang mesti dilakukannya. Pada akhirnya, ada yang meniru (mengadopsi) bentuk, isi, gaya, bunyi, tatacara bahasa, susunan kata-kata, dan kegaibannya.

Dari pengamatan Akib, baik puisi-puisi Sapardi atupun sejumlah nama lainnya, lebih banyak yang mengadopsi (meniru) model pantun dan syair. Belakangan, pengadopsian terhadap pantun dan syair itupun sudah berubah lagi, yang semua kalimat setiap baris di dalam bait-baitnya menjadi isi, dan tidak ada sampirannya.

Berkaitan dengan tradisi pantun ini, kata Akib, tidak semua puisi terlihat utuh seperti pantun, tetapi seolah-olah jika dibaca terasa seperti membaca pantun. Padahal dalam baitnya ada yang hanya tiga baris dan setiap barisnya tidak empat kata atau lebih tetapi ada hanya dua kata saja.

Akib pun mengaku kagum pada puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Menurutnya, sedemikian “lihai”, “mahir” atau cerdik memoles dan memanfaatkan sedemikian rupa segala hal-ikhwal yang nyatanya berkait-erat sedemikian serasi dan molek dengan tradisi lisan yang memang menjadi khazanah suku-bangsa di seluruh Indonesia.

“Dapat dikatakan, tradisi lisan yang dimanfaatkan oleh beliau bukan hanya berupa “puisi rakyat” seperti mantra, sapah-serapah, tawar sejuk-dingin, jampi-jampi atau sejenisnya, tetapi sekaligus tradisi lisan yang berupa dongeng, cerita rakyat, folk lor, dan atau rampai-rampai perbualan budaya di dalam masyarakat, ini kentara sekali di dalam kumpulan puisi “Kolam” dan “ada berita apa hari ini Den Sastro?,” tutupnya. (Red/Hms).

Editor : Febri