Semalam Bersama Naoko

TANJUNGPINANG- Jarum jam baru menunjuk angka 7 lewat sedikit, Senin malam, 7 Mei 2018, itu. Tapi suasana cafe di sekitaran Batu 5, Tanjungpinang, yang biasa ramai tampak lengang.

Hanya beberapa remaja terlihat sibuk dengan laptop. Di belakangnya duduk dua orang ibu muda asyik pencet-pencet tombol handphone.

Nun di ujung, tak jauh dari meja Medako, seorang pria bicara serius. “Aku nggak bohong. Dia cuma teman, nggak ada hubungan lebih,” katanya.

Wanita di depannya bengong. Segelas jus alpukat disedotnya berkali-kali hingga tandas.

Di luar, hujan sedari sore menyisakan gerimis.

Suasana membosankan ini seketika hidup manakala datang perempuan asing menghampiri Medako. “Boleh saya duduk di sini,” katanya seraya melempar senyum.

Nona ini, sumpah, cantik bukan main. Penampilannya juga nyaman dipandang mata. Berkaus ketat dipadu celana jins hitam yang juga ketat. Kakinya dibungkus sepatu high heels motif polkadot. Pipinya menerbitkan rona jingga seperti tomat mengkal.

Naoko, namanya. Gadis 28 tahun blesteran Jepang-Amerika ini singgah di Tanjungpinang sepulang liburan dari Lagoi. Sekadar jalan-jalan. “Sudah seminggu saya di Lagoi. Lusa pulang,” katanya.

Kepada pelayan cafe ia pesan jus melon, seporsi ayam goreng dan kentang.

“Sampean naik apa tadi?” tanya Medako.

“Naik ojek,” ujar dia.

Budaya dan kriminal topik obrolan yang menarik perhatian Naoko. Bahkan soal kriminal, bule yang mengaku masih lajang ini bertanya banyak: seberapa besar tingkat kriminalitas di kota ini. Bentuk kejahatan apa saja yang menonjol. Apa program pihak berwajib meminimalisir…

Naoko sumringah mendengar jawab semua pertanyannya. Tiga kali ia mengacungkan jempol. “Owh, you are a journalist, huh. Greats (Owh, kamu wartawan ya. Mantap),” katanya.

Rupanya malam ini Naoko mencari teman buat menemaninya kelililing kota. “Anda bisa menemani saya,” ujarnya. Tak perlu berpikir panjang, Medako mengangguk cepat: “Go ahead.”

Naoko tertawa riang. Hasratnya menyusuri sudut-sudut Tanjungpinang seakan tak tertahankan. Syukurlah bule yang bisa berbahasa Indonesia ini senang dibonceng sepeda motor. “Tonight will be a long night (malam ini akan jadi malam yang panjang). Let’s go,” katanya.

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi pujasera Akau, Potong Lembu. Naoko tak makan di sana, sekadar foto dan bertanya-tanya sedikit kepada sejumlah pedagang. Dirangkumnya dalam catatan kecil bertulis bahasa Inggris. Hal yang sama dibuatnya di Ocean Marina, Jalan Gudang Minyak. Juga beberapa pujasera lain.

Rute selanjutnya Ramayana. Di sana Naoko beli kaus, celana dan beberapa helai pakaian dalam. Katanya buat kenang-kenangan.

Selesai itu ke Melayu square. Tidak hanya foto dan tanya-tanya, kali ini ia makan. Naoko suka otak-otak. Dua porsi penganan khas Melayu ini dimakan habis. Acara kemudian dilanjutkan duduk santai di Laman Boenda seraya menatap laut. Naoko mencicipi bandrek.

Dua jam duduk di Tepi Laut ia habiskan bercerita tentang dirinya. Tentang bapaknya yang Jepang dan ibunya yang Amerika. Sang bapak dosen di sebuah universitas. Ibunya pegawai kantor pajak. Kini ia tinggal terpisah. Menetap di Cleveland, Ohio, mengurus salon.

Di Lagoi ia datang bersama empat orang sejawatnya. Teman-teman Naoko malam ini memilih keliling lokasi lain. “Saya sudah sering ke Tanjungpinang ini,” kata dia.

Setiap liburan tiba, dipastikan Naoko berkeliling Indonesia. Ia memilih negeri ini karena tertarik dengan panorama alam dan kehidupan warga yang dinilainya unik: sederhana tapi bahagia.

Satu lagi. “Orang di sini ramah kepada pendatang. Tak peduli dari mana ia berasal,” kata Naoko.

Ia sudah mengunjungi Gunung Bromo di Jawa Timur, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Bali, dan beberapa daerah wisata di seantero Nusantara. Ditunjukkannya foto koleksi wisata dimana ia berkunjung.

Jarum jam menunjuk angka 1.00 WIB. Pengunjung Laman Boenda satu persatu berangsur pergi. “Mulai dingin. Kita lanjut ngobrol di tempat saya menginap saja ya,” katanya.

Di sepanjang jalan Naoko bernyanyi. Sesekali ia meliuk-liukkan tangan. “Rasanya tidak ada lagi masa lalu, tidak ada lagi masa depan. Hanya malam ini,” begitu arti lagunya.

“Ya, hanya malam ini. Malam yang panjang dan menyenangkan…”

“Mari masuk. Saya sendiri,” kata Naoko setiba di penginapan sekitaran Batu 12.

Obrolan pun berlanjut. Tentang banyak hal. Nona permai ini menyuguhkan kopi susu dan camilan lezat.

Naoko tertawa terpingkal-pingkal ketika ditanya soal ninja, samurai dan yakuzha. “Ini jaman modern,” katanya. “Lagipula sejak umur 5 tahun saya tidak tinggal di Jepang lagi.”

Jarum jam menunjuk angka 4. Medako mohon diri. Naoko menjulurkan tas barang belanjaan. “Jangan ditolak. Menyenangkan bersama kamu,” katanya.

Terdapat rupa-rupa barang dalam tas tadi: pakaian, foto dan diary. Pada halaman pertama diary itu tertulis, “Pekan ke dua setelah purnama, aku kembali.”

Reporter: Alsagaff

159 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *