Wilayah Udara Natuna Indonesia Diambil Alih Singapura

Natuna, GK – Komandan Lanud Raden Sadjad Kolonel Pnb Azhar Aditama Dj, merasa kesal karena wilayah udara Natuna Indonesia dikuasai oleh Singapura. Hal ini terjadi karena Natuna belum mempunyai tower Air Trafict Control (ATC). Dalam hal ini Natuna begitu dirugikan karena setiap pesawat yang melintas diatas langit Natuna harus menyampaikan izin terlebih dahulu kepada Air Trafict Control (ATC) yang ada Singapura.

“Setiap pesawat yang melintas di wilayah udara Natuna Indonesia harus menyampaikan izin ke Singapura. Setiap pesawat yang lewat itu di wajibkan membayar, dan mereka membayarnya kepada Singapura bukan Indonesia. Padahal wilayah udara nya milik Indonesia. Kita yang punya wilayah, mereka yang dapat keuntungannya. Yang akhirnya rugi kan kita juga,” tegas Danlanud Azhar.

Kekesalan Danlanud ini disampaikan nya dalam acara coffee morning bersama wartawan. Bertempat di ruang VIP Lanud Raden Sadjad. Rabu (31/01). Acara ini dalam rangka menyambung silaturrahmi serta kekompakan awak media bersama personil TNI. Selain itu juga Danlanud mensosialisasikan bagaimana kondisi wilayah udara di Natuna.

Dalam perbincangan bersama awak media, Azhar Aditama mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia, Singapura dan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) telah sepakat bahwa mulai tanggal 4 Januari 2018, wilayah udara Kepri akan dikelola oleh Indonesia sendiri. Namun pada kenyataan nya langkah ini telah di gagalkan oleh Singapura yang terlebih dahulu melobby kepada PBB, untuk tetap dapat mengelola wilayah udara Kepri.

“Hal ini terjadi karena lambannya langkah Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan udara Indonesia kepada Perserikatan Bangsa Bangsa, jadi wilayah udara kita diserahkan kepada Singapura. Inilah penyebab utama gagalnya pengambilan alih wilayah udara dalam hal pengaturan lintasan pesawat,” kata Danlanud.

Harapan Danlanud yakni kita semua bisa konsentrasi pada permasalahan Air Trafict Control ini. Karena permasalahan ini membuat mahal nya tiket pesawat baik dari maupun menuju ke Natuna.

“Yang membuat tiket dari Natuna maupun menuju Natuna itu mahal karena jarak tempuh yang menjadi sangat jauh. Yang seharus nya dapat ditempuh dengan jarak garis lurus, namun karena adanya larangan dari Singapura untuk melewati wilayah udara tersebut yang digunakan untuk latihan perang, maka pesawat harus memutar dan berbelok beberapa mil sehingga jarak terbang nya menjadi lebih jauh,” jelas Danlanud.

Danlanud Azhar menambahkan bahwa dari sisi ekonomi dan pendapatan negara, ruang udara Natuna dan sekitarnya sangat berpotensi untuk menambah pendapatan negara dalam upaya mewujudkan kesejahteraan nasional. Di mana pada setiap harinya jumlah rata-rata penerbangan domestik dan manca negara tidak kurang dari 350 penerbangan yang mondar-mandir di ruang udara Natuna.

“Bisa dibayangkan betapa besar keuntungan negara bila wilayah udara ini bisa dikuasai oleh negara Indonesia secara utuh. Setiap penerbangan harus membayar 0,5 US Dolar per noutical mil,” jelas Danlanud.

Danlanud Azhar juga menambahkan bahwa kita sering mendengar semboyan sejak zaman dahulu yakni pertahankan tanah air dengan segenap jiwa dan raga, dalam semboyan ini tidak pernah disebutkan bahwa akan mempertahankan udara pula.

“Saya tidak menyalahkan nenek moyang jika kedaulatan di udara dilepaskan, namun ini yang harus kita upayakan agar udara pun bisa kita kuasai seutuhnya,” Harap Danlanud Azhar.

Upaya mengambil alih wilayah udara Indonesia dari Singapura ini juga membutuhkan dukungan masyarakat Indonesia khususnya Natuna. Oleh karena itu Danlanud menghimbau agar masyarakat bersama – sama mendorong Pemerintah agar dapat tegas dalam hal ini.

“Sejak tahun 1962 wilayah udara Kepri dikuasai Singapura, sementara sebagai pemilik wilayah kita dirugikan sebab negara lain yang diuntungkan. Hal ini harus kita ubah. Dan pemerintah secepatnya bertindak untuk menyelesaikan masalah ini. Kita harus rebut kedaulatan udara diatas Natuna,” Tutup Danlanud Azhar. (Sai)

116 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *