Aborsi Bak Simalakama

Penulis : Lisna Wita Liana (Universitas Karimun)

 

Maraknya pergaulan bebas diantara kaula muda di zaman sekarang ini, acapkali seringnya membuat mereka lupa diri, bahkan kebablasan dalam suatu hubungan. Entah itu dipicu akan tayangan film di Televisi, maupun memang mengacu akan budaya luar yang ke kinian bak mengikuti trend ala barat.

Tentunya jika trend itu tetap terus berkembang di Negara Indonesia yang terkenal akan adat istiadat serta keramahan budayanya yang santun, maka, resiko meningkatnya perilaku seks pra nikah dan seks bebas tentu tidak dapat dihindari akibat perkembangan budaya modern yang semakin meningkat.

Saat ini, banyak kita temui di Negara kita, (Indonesia) para anak yang usianya masih di bawah umur (17 Tahun kebawah) yang sudah melakukan tindakan aborsi terkait pergaulan bebas yang mereka lakukan bersama pasangannya, bahkan dengan sengaja melakukan perilaku seks bebas seolah dengan sengaja memperjualkan tubuhnya hanya untuk mendapatkan rupiah atau kenikmatan sesaat.

Hal ini tentunya sangat disayangkan apabila pemerintah setempat bersama kalangan pendidik, serta komponen masyarakat tidak memiliki sebuah konsep yang terarah dan jelas dalam menghadapi fenomena sosial ini.

Sejalan dengan keprihatinan masyarakat tentang maraknya aborsi  dimasa sekarang ini, jasa aborsi juga seakan marak dipromosikan oleh beberapa kalangan tertentu, bagi yang membutuhkannya. Tentunya hal itu wajib kita cegah secara bersama-sama mulai dari sekarang, di mulai dari lingkungan  keluarga terlebih dahulu, mengingat hal tersebut merupakan suatu tindak pidana.

Berbicara terkait kasus aborsi tentunya tidak akan pernah ada habisnya, dan hal itu juga ibarat buah simalakama. Di satu sisi aborsi diperbolehkan untuk dilakukan yang memang diharuskan, seperti terjadinya keguguran. Apabila hal tersebut sampai terjadi, maka Dokter wajib mengambil suatu tindakan untuk menyelamatkan nyawa sang ibu, agar terhindar dari terjadinya pendarahan yang terus-menerus keluar. Disisi lain, aborsi sangat dilarang keras untuk mereka yang diluar sana kerab melakukan pergaulan bebas, namun karena alasan malu dan bla..bla..bla.. dengan sengaja melakukan aborsi (menghilangkan nyawa si janin yang ada dirahimnya).

Hingga saat ini, aborsi juga menjadi permasalahan pelik dan masih sangat sensitif jika ingin didiskusikan. Sebagian besar orang menentang aborsi juga dikarena pengaruh agama.

Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah aborsi, jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) juga semakin meningkat. Hasil penelitian Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) terdapat hasil AKI di Indonesia sekitar 390 per 100.000 kelahiran di tahun 2000. Berdasarkan hasil ini, maka AKI di Indonesia menduduki urutan teratas di Asia Tenggara. Adapun penyebab tingginya Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah kasus aborsi.

Data-data hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa kasus aborsi merupakan masalah yang sangat serius dihadapi bangsa Indonesia. Hal ini tentunya membutuhkan penegakan hukum yang sungguh-sungguh dari aparat penegak hukum yang ada di Indonesia. Penegakan hukum ini harus diintensifkan, mengingat dampak buruknya akibat aborsi itu tidak hanya menyebabkan kematian pada bayi saja, namun bisa juga membahayakan bagi sang ibu.

Kebijakan Aborsi di Indonesia termasuk salah satu negara yang menentang pelegalan aborsi dalam konvensi-konvensi badan dunia PBB, satu kubu dengan negara-negara muslim di dunia, sebagian negara Amerika Latin dan Vatikan.

Di Asia, aborsi dianggap illegal, kecuali atas alasan medis untuk menyelamatkan nyawa sang ibu. Oleh karena itulah praktek aborsi dapat dikenai pidana oleh Negara bagi yang melakukannya dengan unsur sengaja. (*)