Sahrul : Kota Tanjungpinang Harus Rebut Posisi Pusat Kajian Budaya Melayu

Tanjungpinang, GK.com – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang di wakili oleh Drs. Lokot Ahmad Enda, M.M, selaku Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I menadatangani Memorandum of Understanding (MoU) Pengembangan Destinasi Pariwisata bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang, Rabu (26/12), pukul 09.00 Wib, di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman.

Dalam penandatanganan tersebut, Walikota Tanjungpinang H. Syahrul, S.Pd di damping oleh Plt. Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang R. Kholidin, S.Sos.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Raja Kholidin, S.Sos, dalam sambutannya mengatakan, perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Tanjungpinang dari sektor pariwisata setiap tahunnya mengalami peningkatan.

“Pajak Hotel tahun 2016 berkisar 4,8 miliar, di tahun 2017 menjadi 5,6 miliar, dan di prediksikan untuk tahun 2018 akan mengalami kenaikan menjadi 6 miliar, untuk pajak restoran tahun 2016 adalah sebesar 9,5 miliar, tahun 2017 naik menjadi 11,5 miliar, dan di prediksikan untuk tahun 2018 naik menjadi 12 miliar, sementara untuk pajak hiburan di tahun 2016 sebesar 2,3 miliar, tahun 2017 menjadi 3,5 milyar,  dan di prediksikan tahun 2018 akan naik menjadi 4 miliar,” papar Kholidin.

Dijelaskan R. Kholidin, untuk kunjungan wisata mancanegara tahun 2016 berhasil mencapai 98.098 wisatawan dari target  98.000,  tahun 2017 dengan capaian 117,384 dari target 102,000 wisatawan,  sementara tahun 2018 target meningkat menjadi 150,000 wisatawan dan capaian sampai dengan bulan Oktober adalah 113,780 orang yang artinya masih ada 2 bulan untuk mencapai target 150,000 wisatawan.

Dikesempatan yang sama, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Drs. Lokot Ahmad Enda, M.M, mengatakan bahwa, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) termasuk  peringkat ke- 3 dalam mendatangkan wisatawan di Indonesia.

“Wisatawan datang ke Indonesia, 60% itu di pengaruhi oleh budaya, 35% karena alam, sedangkan 5% nya lagi dikarenakan wisata buatan,” katanya.

“Kepri termasuk  peringkat ke- 3 dalam mendatangkan wisatawan di Indonesia, yaitu sebesar 20%, pada peringkat kedua di duduki oleh Bali sebesar 30%, peringkat pertama di duduki oleh Jakarta yaitu sebesar 40%, sementara sisanya yang 10% lagi ditempati oleh provinsi lain yang ada di seluruh Indonesia,”. jelas Ahmad.

Sementara itu, Walikota Tanjungpinang, H. Syahrul, S.Pd dalam membacakan pidato kebudayaan mengatakan bahwa, Kota Tanjungpinang haruslah merebut posisi sebagai pusat kajian Budaya Melayu.

“Pekanbaru telah menetapkan bahwa mereka adalah Pusat Kebudayaan Melayu, maka kita sebagai Kota Tanjungpinang yang paling berdekatan dengan Pulau Penyengat yang kental dengan budaya Melayunya haruslah merebut posisi sebagai Pusat Kajian Budaya Melayu,” ujar Syahrul.

“Sebagai masyarakat Kota Tanjungpinang, kita hendaknya dapat meningkatkan kosakata bahasa Melayu ke dalam bahasa sehari-hari, olahraga dan permainan tradisional, serta silat juga harus terus di lestarikan,” harap Syahrul.

Setelah melakukan penandatanganan MoU pengembangan destinasi pariwisata antara Pemerintah Kota Tanjungpinang dengan Kemenpar RI, acara berlanjut dengan penyerahan buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kota Tanjungpinang, buku Sejarah dan Cagar Budaya Kota Tanjungpinang, serta pemberian piagam penghargaan pada penyumbang koleksi museum di Kota Tanjungpinang.

Hadir dalam acara tersebut Walikota Tanjungpinang H. Syahrul, S.Pd, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang Raja Kholidin, S.Sos, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Drs. Lokot Ahmad Enda, M.M, Wakil Ketua Tim Percepatan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Budaya Kemenpar Tendi Nuralam,  Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Suroso, dan tamu undangan lainnya. (FL).

Editor : Ani