Pertanian di Lingga dan Ancaman Asam Tanah

Penulis : Rahman (Pemimpin Redaksi)

Tingginya zam asam tanah di Kabupaten Lingga dikatakan sebagai penyebab daerah Lingga tidak cocok dijadikan lahan pertanian. Sehingga sejak tahun 1978 konsep rencana pertanian di lingga berubah menjadi wilayah perkebunan sagu.

Tingginya zat asam tanah diwilayah kabupaten penghasil bouksit ini, juga menjadi ancaman bagi program pertanian di era Alias Wello sebagai Bupati Kabupaten Lingga priode 2016-2021. Seluas ratusan hektar hutan di lingga  diubah menjadi lahan sawah, diantaranya dilokasi Desa Sungai Besar seluas 34 hektar, Desa Bukit Langkap seluas 45 hektar, Desa Panggak Darat seluas 135 hektar, Desa Panggak Laut seluas 153 hektar, Desa Nerekeh seluas 90 hektar, Desa Marok Kecil seluas 70 hektar dan Desa Resang seluas 186 hektar.

Berjalannya program persawahan di lingga sejak November tahun 2016 dilahan dengan zat asam tanah diatas normal, membuat para petani bekerja lebih keras dengan melakukan pengapuran tanah untuk meningkatkan kadar Ph tanah, serta harus memberikan pupuk guna mencegah tanaman padi keracunan dan melakukan pengairan lebih banyak agar kapur dan pupuk meresap kedalam tanah dan merawat tanaman padi hingga menjelang panen. Kendati demikian, hasil panen para petani tetap tidak memuaskan, sehektar lahan sawah di lingga hanya mampu menghasilkan ratusan kilogram gabah padi. Hal tersebut dikatakan jauh dari harapan yang semestinya sehektar sawah mampu menghasilkan tiga hingga empat ton gabah padi. Selain disebabkan keasaman tanah yang sangat tinggi, minimnya hasil panen juga disebabkan kurangnya keahlian dalam memupuk serta minimnya pengalaman masyarakat didalam bertani.

Tahun 2018, visi dan misi Kabupaten Lingga untuk menjadi Lumbung Padi Terbesar se Kepulauan Riau mendapat dukung dari pemerintah pusat dengan mengalokasikan dana untuk mencetak sawah 3000 hektar.

Dukungan pemerintah pusat menjadi harapan baru bagi masyarakat petani dan kabupaten lingga sehingga tidak hanya menjadi pemilik sawah terbesar se Kepulauan Riau, namun dapat mencapai sebagai penghasil beras terbesar se Kepulauan Riau dengan harga yang mampu bersaing dipasaran. Oleh itu diharapkan agar pemerintah pusat juga mendukung pertanian di lingga dengan menambah tenaga penyuluh berkompeten serta bahan pendukung seperti kapur dan pupuk untuk meningkatkan hasil pertanian di kabupaten lingga.