LAM Kelurahan Daik Dikukuhkan

LINGGA- Lembaga Adat Melayu Kelurahan (LAM) Daik resmi dilantik.v Berdasarkan hasil musyawarah RT/RW,tokoh masyarakat Daik, maka terpilih Datok Sazali sebagai ketua LAM Kelurahan Daik.

Dalam sambutannya, Datok Sazali menyampaikan permohonan agar diberikan petunjuk. “Kami masih muda dan perlu tunjuk ajar dari tokoh-tokoh adat. Sebab tidak mudah mengemban amanah sebagai Ketua LAM,”ungkap Datok Sazali, Rabu(22/8/2018) di Balai LAM Daik.

Kasi Pemerintahan, Datok Aryanto mewakili Lurah Daik memberikan ucapan selamat kepada pengurus LAM terpilih. “Kami berharap LAM kelurahan mampu menjaga adat. Karena Kelurahan Daik merupakan pusat Bunda Tanah Melayu. Terkait operasional kegiatan, saat ini LAM kabupaten sudah mengalokasikan anggaran untuk LAM desa/kelurahan,”ujar Datok Aryanto.

“Kedepan akan kita usahakan agar LAM Kelurahan Daik memiliki anggaran operasional tersendiri. Tujuannya agar kerja-kerja merawat budaya dan melestarikan adat ini bisa berjalan sesuai dengan harapan,”sambungnya.

Datok Sri H. Ishak mengatakan LAM harus mampu mengajak masyarakat untuk sama-sama menjaga adat.

“Menggali dan melestarikan tradisi lama adalah tugas utama LAM. Keberadaan LAM sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Jadi, pengurus LAM kelurahan harus selalu berkoordinasi dengan LAM Kabupaten,”ujar Datok Sri.

“LAM sudah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan untuk menyusun kurikulum kebudayaan. Harapan kita, materi dan buku-buku adat budaya yang disusun oleh LAM kabupaten bisa segera disiapkan dan dibagikan untuk disampaikan kesekolah yang ada di Kabupaten Lingga,”tambah Datok Sri.

Terkait pembinaan Mak Inang dan Mak Andam, Datok Sri juga sangat menaruh harapan besar. “Saya minta kepada Mak Inang dan Mak Andam yang sudah ditunjuk untuk siap bekerja. Tanpa ada alasan bermacam dan dibuat-buat sehingga mengganggu kerja Mak Inang dan Mak Andam. Sebenarnya, tugas Mak Inang dan Mak Andam dapat meringankan kerja pemimpin Negeri,”ucap Datok Ishak.

Usai pengukuhan LAM Kelurahan Daik dilanjutkan dengan sosialisasi Tepok Tepong Tawar yang dipandu oleh Datok H. Nadar. Menurut Datok Nadar ada 3 (tiga) elemen yang sejatinya menjadi penepuk tepung tawar, yaitu tokoh adat, tokoh agama serta pemimpin negeri.

“Terpenting yang harus diperhatikan adalah tatacara berpakaian. Penepuk harus berpakaian patut, yaitu menggunakan baju kurung Melayu. Aturannya begitu karena tradisi tepuk tepung tawar Lingga ini sudah diakui sebagai warisan budaya Indonesia,”jelas Datok Nadar.

Saat sosialisasi, kepada para undangan diminta untuk praktik langsung sebagai penepuk. Malam pengukuhan LAM kelurahan Daik dihadiri oleh RT/RW,tokoh masyarakat serta pengurus LAM Kecamatan dan Kabupaten. (rri)

Recommended For You

About the Author: admin01